Demokratisasi dan Ruang Publik Politis

Posted on Desember 6, 2008. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , , , , |

Oleh Muhammad Syihabuddin

Demokrasi dan ruang publik merupakan dua sisi dari sekeping uang logam. Masing-masing lekat, tak berjarak. Kita tidak bisa mengatakan suatu negara atau daerah itu demokratis jika di dalamnya tak tersedia ruang publik. Ruang publik adalah infrastruktur utama dalam bangunan demokrasi.

Dewasa ini, bangsa kita telah meletakkan satu tahapan baru demokratisasi setelah dengan gemilang menggulirkan pemilu multi partai. Semua komponen masyarakat secara bebas bisa menentukan pilihan politiknya. Kondisi sama juga terjadi di berbagai daerah. Pemilu multi partai, kebijakan desentralisasi politik dan otonomi daerah, merupakan prasyarat tumbuhnya demokrasi lokal.

Namun, akan sangat premature jika mengklaim keberhasilan pemilu sebagai suksesnya demokratisasi. Demokrasi dalam konteks pemilihan wakil rakyat atau pemimpin politik adalah demokrasi prosedural atau minimalis. Dan ini yang baru terjadi di negara yang masih tertatih menjalankan demokrasi seperti negeri kita ini. Hal sama terjadi di berbagai daerah yang baru belajar menumbuhkan demokrasi lokalnya.

Jika kita ingin derajat demokrasi kita naik, maka kita tidak boleh berhenti pada siklus lima tahunan pemilu. Demokrasi maksimal harus memenuhi prasyarat maksimal pula, sebagaimana adagium yang begitu masyhur “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Artinya, menyerahkan kepercayaan begitu saja kepada aktor dalam sistem politik hasil pemilu—eksekutif dan legislatif—tidak akan memenuhi demokrasi semacam itu.Kita, sebagai warga negara, juga harus meraih akses pengaruh ke dalam sistem politik. Masa dan celah di antara dua pemilu juga harus diisi oleh partisipasi publik dalam arti sebenar-benarnya dan seluas-luasnya. Dalam demokrasi maksimal dan subtansialis inilah konsep ruang publik menempati posisi yang begitu sentral. Jika ruang publik itu dipakai untuk mewacanakan atau mempengaruhi kebijakan publik, maka ia bisa disebut dengan ruang publik politis.

Istilah “ruang publik politis” (political public sphere) pertama kali diintrodusir oleh Habermas (1989). Ide ini merujuk pada “ruang atau arena di mana warganegara melempar opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas dari tekanan siapapun”. Ruang di sini tidak boleh semata di pahami secara spatial, namun ruang dalam arti seluas-luasnya. Yang terpenting, merujuk Habermas, hadir di dalamnya komunikasi yang memungkinkan para warganya membentuk wacana dan kehendak bersama secara diskursif.

Jika dalam gugus masyarakat kita kini di isi oleh tiga pilar utama; negara (pemerintah-birokrasi-politisi), pasar bebas (pebisnis-kapitalisme), dan solidaritas sosial (masyarakat sipil), maka locus ruang publik politis melekat pada solidaritas sosial.Dalam masyarakat kompleks mutakhir, hampir-hampir mustahil membayangkan hadirnya ruang publik politis yang bebas sama sekali dari pengaruh negara atau pebisnis. Kita bisa melihat banyaknya seminar, demonstrasi, diskusi publik, polling, yang kerapkali di fasilitasi dan diformat oleh pemerintah, elit politik, atau bahkan pemodal.

Dalam kondisi semacam itu, maka kita harus memaknai ruang publik politis sebagai arena di luar aneka forum resmi. Di manapun dan kapanpun warganegara bertemu, berkumpul, membincangkan dan menyuarakan beragam tema yang relevan dengan nasib mereka, itulah ruang publik politis. Seperti, warung makan, aksi protes jalanan, kampus, pos ronda, diskusi interaktif di radio/TV, kolom opini di media, dan seterusnya. Lewat instrumen itu semua, masyarakat berhak menyuarakan apapun tanpa ada tekanan atau bujuk rayu siapapun.

Terciptanya komunikasi dan pengeluaran opini yang sehat baru bisa mewujud jika dan hanya jika aktor-aktor yang tumbuh di kalangan masyarakat (civil society), seperti kelompok kegamaan, LSM, kalangan profesional, kelompok etnis, budaya, dan kalangan cendekia, kebal akan manipulasi pihak luar, entah sistem politik atau pebisnis. Mereka harus otonom, tak terbeli, dan berjarak dari kepentingan siapapun.

Ruang publik politis, di tengah masyarakat, akan berfungsi sebagai “radar” yang secara peka mampu menjangkau beragam kepentingan warga, sekaligus sebagai “speaker” yang menyuarakan kepentingan itu. Selain itu, ia juga berperan sebagai kontrol publik dari aktor-aktor yang ada di dalam sistem politik dan ekonomi. Intinya, jangan ada isu publik yang sampai lolos dari “sensor” ruang publik politis.

Namun, kita menyaksikan sendiri bagaimana pejabat publik kita kerap tutup mata dan tutup telinga melihat dan mendengar persoalan di sekelilingnya. Kebebalan mereka juga kerapkali disertai manipulasi atau intimidasi, secara langsung ataupun tidak langsung, sistematis maupun tidak.

Jika kondisinya semacam itu, tentu aktor-aktor penggiat ruang publik juga harus pandai-pandai menyusun strategi bagaimana menyusun opini dan bagaimana pula merentangkan opini tersebut seluas-luasnya ke pentas publik, seraya menambah volume suara publik tersebut sehingga bisa nyaring ke mana-mana. Melebihi itu, media, kalangan cendekia kampus, LSM, tidak boleh semata menjadi aktor, namun juga sebagi penghasil aktif ruang publik politis. Dari mereka semua, saya yakin, apatisme masyarakat sedikit demi sedikit bisa diatasi.

Yakinlah bahwa di alam yang sudah relatif bebas ini, ada saja celah yang bisa dimanfaatkan untuk membuka ruang publik tersebut. Masyarakat majemuk, kekuasaan yang tak lagi tunggal dan menyebar, dan juga keterbukaan, menjadi modal bagi pembukaan ruang publik politis tersebut. Sebagai refleksi, kekuasaan Soeharto yang begitu mengakar dan dibangun selama puluhan tahun di atas senjata tentara, “dusta” ideologi, dan tumpukan uang, runtuh berkeping-keping karena tak henti-hentinya digempur oleh kolaborasi mahasiswa, media, intelektual, dan tentu saja rakyat.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: