Deskripsi Program

Posted on Januari 5, 2009. Filed under: Tentang Program | Tag:, , |

Program yang akan dilaksanakan ini bernama ‘Program Sekolah Demokrasi di Kota Batu’. Program ini meliputi serangkaian aktivitas pelatihan dan pembelajaran mengenai nilai, pengetahuan dan ketrampilan demokrasi, yang ditujukan kepada para aktor-aktor demokrasi di Kota Batu.Secara prinsip, program ini memiliki dua fokus besar. Pertama, aktivitas pembelajaran dalam Sekolah Demokrasi, yang dilakukan dengan tujuan untuk mencapai pemahaman yang komprehensif pada diri aktor-aktor demokrasi Kota Batu tentang prinsip-prinsip universal demokrasi, serta upaya untuk melakukan kontekstualisasi muatan lokal masyarakat Kota Batu sehingga dapat dipertemukan dengan prinsip universal demokrasi. Kedua, aktivitas-aktivitas demokratisasi, yang difokuskan pada upaya-upaya untuk mengimplementasikan nilai, pengetahuan dan ketrampilan demokrasi ke dalam aktivitas kemasyarakatan. Aktivitas demokratisasi ini, selain dilakukan pada saat peserta Sekolah Demokrasi masih menjalani proses pembelajaran dalam Program Sekolah Demokrasi (dilakukan dengan identitas sebagai Peserta Sekolah Demokrasi), juga dimungkinkan untuk mendorong peserta agar aktif menggerakkan proses demokratisasi di basis komunitas masing-masing.

Dua kegiatan pokok tersebut pada praktiknya dalam Program Sekolah Demokrasi akan dilaksanakan melalui (1) Kegiatan di Dalam Kelas (in-class activities), yang dilakukan berupa serangkaian aktivitas pembelajaran dan pelatihan yang dilaksanakan di dalam ruang-ruang belajar; serta (2) Kegiatan di Luar Kelas (out-class activities), yang dilakukan dengan memfasilitasi proses belajar langsung dan berkegiatan di tengah-tengah masyarakat.

Pemisahan antara ‘Kegiatan di Dalam Kelas’ dengan ‘Kegiatan di Luar Kelas’ tentu saja tidak bermaksud untuk membuat dikotomi antara kedua metode belajar bagi peserta tersebut. Akan tetapi, pemisahan tersebut dilakukan guna memudahkan dalam pengorganisasian pelaksanaannya. Di samping itu, dengan pemisahan tersebut, juga akan makin terlihat jelas penekanan dalam hal aspek orientasi pembelajaran yang berupa Pengetahuan (knowledges), Ketrampilan (skills) dan Nilai-Nilai (values) Demokrasi.

Dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kelas pelatihan secara umum adalah penguatan pada aspek pengetahuan, berupa diskusi dan curah pendapat mengenai diskursus demokrasi. Sedangkan dalam kegiatan-kegiatan di luar kelas, seperti Dialog Publik, Talkshow Radio dan televisi, Dengar Pendapat (Hearing) dengan DPRD, Kegiatan mandiri peserta adalah penguatan pada aspek ketrampilan. Sebab di sini para peserta dapat merasakan secara langsung bagaimana gelegak emosi dan kesulitan-kesulitan riil bagi mereka yang selama ini berjuang di ruang publik yang nyata. Dari kedua proses belajar tersebut di atas, diharapkan muncul bangunan sensitivitas dan kesadaran demokratik dalam diri peserta Sekolah Demokrasi berupa Nilai-Nilai Demokrasi. Kesadaran terhadap nilai demokrasi tersebut dimungkinkan untuk terinternalisasi lebih jauh dalam diri masing-masing peserta Sekolah Demokrasi dalam proses-proses berikutnya, baik selama mengikuti Sekolah Demokrasi maupun sesudahnya.

Tentu saja, semua aspek tersebut tidak berdiri sendiri selama proses belajar dalam Sekolah Demokrasi. Maksudnya, selain aspek pengetahuan, aktivitas di dalam kelas juga akan menyertakan pencapaian peningkatan ketrampilan demokrasi peserta, semisal kemampuan mengemukakan dan mempertahankan pendapat dan argumen, ketrampilan mengelola forum serta ketrampilan-ketrampilan lainnya. Dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas pula, dimungkinkan peserta Sekolah Demokrasi akan mendapatkan pembelajaran nilai-nilai demokrasi, semisal kesadaran untuk mendengarkan pendapat orang lain, kesadaran bertoleransi di tengah beragamnya basis komunitas asal peserta, serta nilai-nilai demokrasi yang berasal dari materi belajar. Hal demikian juga akan dijumpai dalam aktivitas-aktivitas peserta di luar kelas. Selain dititikberatkan pada pencapaian aspek ketrampilan demokrasi peserta, pengetahuan dan nilai-nilai demokrasi juga menjadi sesuatu yang terbuka untuk dieksplorasi dalam proses belajar di luar kelas.

Aspek-aspek pembelajaran tersebut nantinya akan ditunjang dengan input para aktor demokrasi sebagai peserta yang berasal dari empat pilar demokrasi, yakni: (1) kalangan pebisnis/pelaku usaha, (2) kalangan LSM sebagai bagian dari civil society, (3) aktivis partai politik serta (4) institusi negara.

Dengan mengikutsertakan semua kalangan pilar demokrasi ini, setidaknya terdapat dua ikhtiar utama dalam Program Sekolah Demokrasi ini. Pertama, bahwa sebagai pilar bagi demokrasi yang berkewajiban untuk mendorong maju setiap proses demokratisasi, semua aktor demokrasi memiliki kewajiban untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai demokrasi yang mereka miliki. Mengembangkan kapasitas diri bagi para aktor demokrasi menjadi sangat penting mengingat bahwa tantangan bagi proses demokratisasi semakin kompleks dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, Program Sekolah Demokrasi menyediakan diri untuk menjadi media peningkatan kapasitas individual aktor demokrasi, sekaligus mendorong agar kapasitas individual (yang dapat dikembangkan selama proses Sekolah Demokrasi) dapat diartikulasikan hingga komunitas basis masing-masing aktor demokrasi yang menjadi peserta Sekolah Demokrasi.

Kedua, mengingat bahwa gerakan demokratisasi mesti didorong secara bersama-sama oleh semua kalangan, maka para aktor demokrasi semestinya menjadi pelopor bagi sinergisasi semua kalangan dalam proses demokratisasi. Meski disadari bahwa untuk menjalin sinergisitas aksi dalam proses demokratisasi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan konsistensi upaya untuk memperkuat jejaring serta terpeliharanya kesalingpercayaan yang sangat kuat di antara semua penggiat demokrasi.

Relevan dengan upaya untuk membangun, memelihara dan memperkuat modal sosial tersebut, keberadaan Program Sekolah Demokrasi salah satunya ditujukan untuk membangun sebuah komunitas yang didalamnya berbaur para aktor demokrasi dari berbagai kalangan. Desain Sekolah Demokrasi sejak awal memang diikhtiarkan untuk membangun sebuah jalinan persahabatan dan persaudaraan antar pesertanya –juga dengan tim pelaksana– dalam proses komunikasi yang cair dan hangat.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: