Demokrasi Bisa Bersahabat Denganku

Posted on Mei 20, 2009. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , , |

Aku kaget setelah mendengar bahwa aku diterima di sekolah demokrasi saat itu. Apa sekolah demokrasi itu, kemana ia akan mengarahkan para pesertanya, materi apa yang akan dibahas di dalamya, sungguh sama sekali aku tak paham dengan itu semua. Hanya firasatku mengatakan, ini pastilah program besar dan cukup luar biasa.

Tapi demokrasi? Ah, Ya Tuhan, demokrasi apa maksudnya? Aku hanya tahu bahwa definisi demokrasi adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Sejarah demokrasi pernah kupelajari, namun entahlah, saat itu aku malas mengingatnya. Rumit! Lagipula dipikiran terasa berat. Tentang nilai yang terkandung di dalam demokrasi sejujurnya aku sudah paham. Hanya, itulah, aku malas untuk serius. Aku biarkan pengetahuan itu mengambang di pikiranku. Hanya sebagai koleksi pengetahuan, tidak lebih. Karena aku memang tak menyukai political zone. Dan demokrasi kuanggap sebagai bagian dari sistem perpolitikan yang rumit dan sulit itu. Banyak orang bilang, demokrasi di negara ini adalah demokrasi seolah-olah. Teman-temanku di kampus sering sekali bilang, “Demokrasi di Indonesia itu nggak ada! Adanya demokrasinya para koruptor!”. Payahnya, aku terpengaruh dengan penilaian-penilaian macam itu. Demokrasi bukanlah sistem yang kubutuhkan. Aku punya area sendiri. Area yang membuatku lebih nyaman ketimbang harus memikirkan demokrasi.

Sekolah Demokrasi lagi-lagi membuatku kaget. Peserta SD adalah terdiri dari orang-orang penting. Kekagetan kutelan sendiri. Aku tiba-tiba menjadi orang yang sungguh pendiam. Berbeda dengan keseharianku di kampus, yang kata teman-teman aktif, cerewet, bawel, dsb. Entahlah, tiba-tiba aku menjadi takut dan enggan bergaul dengan mereka yang lebih tua dan berpengalaman. Keminderan luar biasa menyergapku. Kepercayaan diriku hilang. Tiba-tiba saja, aku merasa menjadi orang paling bego di tempat ini.

Dalam benakku, masih ada kepercayaan, bahwa aku pasti salah masuk SD ini. Aku coba tanyakan pada panitia, ternyata karya tuliskulah yang mengantarkanku ke program bergengsi ini. Barulah, kegelisahanku ini terjawab. Lagi-lagi, tulisanku membawaku untuk berpetualang di dunia yang kuanggap baru dan cukup sulit: dunia politik.

Sayangnya aku tak pernah paham politik! Aku lebih suka bermain-main di dunia santai, imaji, dan khayal. Lantas, di SD aku digembleng demikian serius tentang politik. Bisa terbayang betapa kualahannya aku? Apalagi minimnya pengetahuanku dan pengalamanku tentang sistem pemerintahan di Kabupaten Malang. Aku tak mengerti apapun! Politik sejak kecil sudah menjadi momok bagiku. Dunia itu terlampau licik. Sumpah, aku tak sekalipun punya ketertarikan untuk menekuninya. Lalu, bagaimana mungkin aku nyaman di SD? Sementara peserta yang lain sudah sangat mahir, fasih, dan berpengalaman di bidang ini?

Bila bukan karena ibuku, teman-teman dari Averroes dan peserta demokrasi yang terus mendorongku untuk ‘betah’ di SD, aku mungkin sudah melepaskan semuanya. Untuk apa mempertahankan diri, sementara diri ini tidak merasa nyaman melakoninya? Itulah. Aku tak mau ambil pusing. Membaca novel, cerita-cerita pendek, puisi, mendengarkan musik, atau buku-buku kuliah yang masih dasar dan mudah, jauh lebih menyenangkan ketimbang mempelajari teori-teori politik. Lagi pula, faktor tekanan psikologisku terus membuatku makin kuat. Aku hanya datang, duduk mendengarkan, mencatat, setelah itu selesai.

Tapi ibu dan keluargaku—juga beberapa teman yang tahu aku mendapat kesempatan bagus untuk menimba ilmu dan cari pengalaman di SD– memintaku untuk menjalani SD sampai tuntas. Tak peduli aku tak nyaman atau tidak, yang jelas aku tak diperbolehkan melepaskan kesempatan bagus ini. Aku mencoba mengerti semua itu. Yah, tak banyak orang beruntung sepertiku. Aku bisa kenal dengan orang-orang besar, aku bisa belajar perpolitikan yang mungkin bagi teman-teman seusiaku belum begitu mereka mengerti. Benar, aku seharusnya bersyukur, bahwa aku sedikit lebih cepat berlari dari teman-teman sebayaku, bahkan kakak-kakak semester atasku. Lagi pula, aku bisa mendapatkan pengetahuan dari pakar politik tingkat nasional yang namanya sudah sering kudengar. Ini langka. Ini hebat. Lantas, untuk apa kupertahankan egoku? Bukankah warna-warna hidup di dunia ini banyak sekali? Kenapa aku begitu egois membatasi diri sendiri untuk tak merambah wilayah lain?

Lambat laun, aku mulai terbiasa. SD ternyata tak hanya mengajariku teori-teori politik. SD juga memberiku banyak hal baru. Tiba-tiba aku sedikit paham sistem pemerintahan baik di wilayah daerah ataupun pusat. Aku juga tahu sejarah-sejarah perpolitikan lebih dalam ketimbang yang kupahami dulu. Mulai dari Socrates dan plato, sampai demokrasi pasca rennaissance dan seterusnya. Mulai dari Soekarno sampai Yudoyono. Beragam peristiwa heroik yang diterangkan juga selalu kucatat. Kemirisan, kebanggaan, ketidaksangkaan, dsb semua menghiasi pikiranku yang lama membeku. Aku diberi tahu pula tentang tampang asli pemerintahan kita, mulai dari zaman rezim Soekarno, Soeharto sampai pasca reformasi. Masalah-masalah yang melanda negara, kebrobokan pemimpin, masyarakat sebagai korban, kelicikan pemilihan pemimpin, kerancuan sistem demokrasi di tangan pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab, dll. Ketidakpedulianku perihal persoalan-persoalan krusial itu perlahan terkikis. Aku—yang asalnya acuh tak acuh–mendadak bisa begitu geram dengan ulah elite politik yang tak bertanggung jawab. Aku juga mendadak menjadi begitu peka melihat kepincangan keadilan di sekitarku. Tentang kebodohan, kemiskinan, ketertindasan, ketidakbebasan, keluguan warga, dsb…Hatiku tergerak, pikiranku juga jalan. Walau selama di sekolah aku tetaplah peserta sekolah paling pendiam. Tapi, sesungguhnya aku berfikir, tentang pemaparan narasumber yang jelas. Aku mencatatnya.

Bukankah syarat menjadi seorang pengarang adalah penghayatan dan kepekaan? Ya Tuhan, aku sedikit memilikinya sekarang! Aku selalu merasa gerah tatkala ada yang semena-mena, baik di kampus, di rumah, atau dimanapun. Sekalipun kegerahanku tak serta merta kutuangkan dalam bentuk aksi—layaknya para mahasiswa yang hobi melakukan gerakan pemrotesan terhadap kebijakan kampus—paling tidak aku menuangkannya lewat tulisanku. Ini hal baru bagiku. Dan aku mendapatkannya dari SD!

Aku sering kemukakan pada teman-teman kampusku, tentang fenomena negara Indonesia. Tentang gerakan sosial yang kurang greget, tentang ulah koruptor yang licik, tentang ketidaktahuan rakyat dalam mengelola sumber daya alam, tentang ekonomi negara yang kian lama kian menurun, tentang anarkhisme rakyat dalam menyikapi ketidaksesuaian kebijakan, dsb…(tentu semuanya dari penjelasan yang kudapat di SD dan catatan2ku!). Betapa banyaknya masalah di negara Indonesia ini ternyata!

Cerita-cerita yang dulunya kubuat atas dasar sifat keremajaanku, dengan mengambil tema-tema romantisme remaja, kenakalan dunia remaja, pacar, putus, selingkuh, atau lain-lainnya mendadak mulai bergeser. Walau dalam buku pertama dan keduaku juga mengangkat faktor sosial dan pendidikan, tapi itu hanya sekedar pemaparan dengan bobot tulisan yang masih kurang. Benar saja, saat aku menuliskannya dulu, aku hanya berbekal pengetahuanku yang ala kadarnya. Berisi, namun tak padat. Buku itu hanya berorientasi pada pasar, bukan pada kualitas. Yah, saat itu peminatnya adalah remaja-remaja pesantren dan umum. Cerita pendek penghibur. Itu saja.

Setelah aku masuk SD ini, aku mulai menuliskan cerita-cerita tentang keperempuanan, hak asasi, kemiskinan, pemilihan pemimpin, dan kondisi sosial lainnya. Seorang teman di Jogja—yang merupakan guru kepenulisanku juga—mengatakan, kalau tipe ceritaku yang hura-hura, ceplas-ceplos, lugu, polos, dan ringan tiba-tiba menjadi cukup tertata. Ada nilai-nilai positif yang bisa ditangkap pembaca dan membuat pembaca berfikir. Bobot sudah mulai terasa. Pembaca mulai bisa digiring ke wilayah serius. Bahkan, dia juga bilang, kalau tak biasanya aku berani menuliskan cerita-cerita bertemakan politik atau hak. Dia juga mengatakan, kalau karyaku mengalami perkembangan luar biasa.

Tak hanya menulis cerpen, aku mulai belajar menulis puisi. Puisi pertamaku telah diantologikan bersama penyair muda Indonesia lainnya dalam Antologi Puisi Untuk Munir, tokoh HAM yang kasusnya masih belum terungkap. Ah, aku gembira bisa mengekpresikan pembelaanku dan pemrotesanku terhadap kasus yang tak kunjung usai itu dalam bentuk puisi. Aku juga menulis puisi-puisi tentang Indonesia, bencana dsb. Alhamdulillah, puisiku sudah mulai diakui media. Aku sudah merambah dunia baru, dan SD-lah yang memberikanku stimulan untuk melakukan itu!

Aku tebarkan tulisan-tulisanku ke buletin-buletin kampus, di majalah dinding asrama, majalah-majalah dan koran-koran. Tiba-tiba saja aku menjadi lebih bersemangat menulis. Aku bisa ungkapkan banyak hal perihal ketidakadilan, keperempuanan, budaya diskriminasi dsb di media-media. Aku yang sempat stagnan mengirimkan karya ke koran-koran kini mulai kucoba lagi. Sekalipun sulit, aku terus mencobanya. Betapa ingin aku menyampaikan pendapatku, imajinasiku, dan perasaanku lewat cerita dan puisi lantas banyak orang membacanya. Sampai satu demi satu koran-koran memunculkan karyaku. Baik itu cerita ataupun puisi. Aku juga sempat memenangkan lomba menulis cerita di Samantha Krida Brawijaya tempo hari. Dan tema yang kuangkat saat itu adalah tentang hak-hak anak jalanan (Judul: Perawan kecil)

Kepercayaan diriku makin mantap. Keberanianku pun mulai muncul. Aku mulai direkomendasikan untuk menjadi anggota BEM-F, aku juga diminta untuk menjadi wartawan di tabloid kampus, aku sering diajak diskusi dengan kakak-kakak kelas, dsb.

Aku juga mulai mendirikan komunitas kecil-kecilan yang intens melatih di bidang kepenulisan—mengingat di kampusku tak pernah ada komunitas sastra. Aku mencoba memulainya dari lingkup kecil. Bersama teman-teman kita berdiskusi sastra, mencintai tulisan-tulisan fiksi, berapresiasi, membaca dsb. Semua ini kulakukan karena aku ingin menciptakan lingkungan baca tulis di sini. Aku ingin kembangkan seni di sini. Yah, aku yakin, dari sesuatu yang kecil, akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Aku juga mulai berani kritis pada ibuku yang selama ini mengatur jalan hidupku mulai dari A-Z . Aku sering memintanya untuk mendengarkan keinginanku, mendiskusikannya, dan mempertimbangkan. Bahwa aku sudah tak lagi harus diatur 100%. Aku sudah bisa memilih jalan hidup. Kemana dan mau apa. Ibuku menggeleng-geleng, karena saudara perempuanku tak ada yang berani meminta seperti apa yang aku minta. Virus demokrasi pelan-pelan mendarahdaging pada diriku.

Benar kata Bapak Tamrin tempo hari. Di SD aku tak harus menjadi pakar politik atau aktifis pergerakan. Aku bisa bermain-main di bidangku. Politik bisa menjadi inspirasi baru dalam dunia menulis fiksiku. Dan itu membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat, khususnya remaja pelajar dan mahasiswa. Makin hilang keminderanku. Aku menjadi percaya diri dan berani…

Ah, SD mengajariku banyak hal. Termasuk tata caraku bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa, terhormat, dan tua. Bergaul dengan teman-teman di kampus dengan orang-orang macam di SD ini punya porsi dan tempat masing-masing.

Tapi, tiba-tiba saja SD akan berakhir. Ah, ternyata aku berhasil menjalaninya dengan baik. Sekalipun aku masih belum begitu matang, paling tidak aku sedikit mengerti. Wacanaku berkembang. Dan kedewasaanku perlahan-lahan terbentuk. Semoga berguna, semoga bermanfaat. Aku ingin menjadi aktor demokrasi yang baik. Karena bila aku berhasil, maka aku bisa rasakan kemandirian dan kedewasaan. Aku ingin salurkan apa yang kupunya ini lewat tulisan-tulisan. Negara Indonesia–kabupaten Malang juga– masih berproses untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya, dan aku, aku akan berusaha turut berupaya mewujudkannya. Minimal di kalangan mahasiswa atau penuis-penulis muda remaja lainnya. Demokrasi tetaplah sistem yang nyaris sempurna. Hanya, bagaimana cara kita menjalankannya. Itu!

Malang, 17 Agustus 2006

Azizah Hefni, Peserta Sekolah Demokrasi

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: