Saatnya Kaum Muda Berperan Aktif; Wujudkan Konsolidasi Demokrasi

Posted on Juni 2, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, |

Ketika demokrasi menjadi pilihan system ketatanegaraan bangsa ini yang dimaknai sebagai pemerintahan rakyat, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, substansi tersebut menjadi pijakan dasar atas semua terjemahan sikap dari apparatus pemangku kebijakan sampai masyarakat dalam tata kelola pemerintahan, maupun dalam prilaku kehidupan berbangsa dan bernegara demi perwujudan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Perjalanah sejarah bangsa dari demokrasi parlementer atau demokrasi liberal (1950 – 1959), demokrasi terpimpin oleh Soekarno (1959 – 1966) dan demokrasi pancasila yang dikontrol Soeharto (1967 – 1998) sampai memasuki orde reformasi pasca tumbangnya rezim orde baru. Terdapat realitas ambigu bagi konteks demokrasi di Indonesia dewasa ini, seolah kehilangan bentuk dan kebablasan, munculnya system multi partai yang ekstrim, pasca amandemen UUD 1945, kebebasan berbicara dan berorganisasi seolah mengalir diseluruh penjuru negeri. Kebebasan politik masyarakat yang tidak diiringi dengan mekanisme demokrasi yang jelas akan mengarah pada anarkisme politik.

Fenomena Kontra Demokrasi
Munculnya konflik dibeberapa wilayah diindonesia dari tahun 2000 sampai sekarang memberi pertanda akan hilangnya semangat berdemokrasi dalam hal saling menyapa keberagaman yang ada, bukan sebagai perbedaan.Hal ini memberi kenyataan bahwa reformasi tak memiliki plat from dan pijakan yang jelas, dengan hadirnya kultur politik yang melemahkan kohesi social dan menguatnya sentiment primordial, seperti fenomena yang muncul dalam pilkada yang kadang berakhir dengan darah. Fenomena kontra demokrasi tersebut menjadi indicator akan lemahnya system demokrasi di negeri kita. Jika menilik konteks Sulawesi Tenggara pada situasi politik dengan momentun pilkada November 2007, maka bukan mustahil untuk terjebak pada situsi politik etnis dengan sentimen primordial yang dapat menyulut konflik komunal yang dapat mencerabut nilai-nilai dan semangat demokrasi sehingga harapan akan perubahan social yang lebih baik menjadi sulit terwujud.

Dalam konteks demokrasi di Indonesia dengan system demokrasi procedural, dimana partai politik sebagai lokomotif demokrasi yang diharapkan dapat mendrive dan mengartikulasikan nilai-nilai demokrasi ditengah masyarakat, justru terjebak dalam eksklusifisme politik yang elitis, buruknya kerja anggota DPR yang hanya memikirkan kepentingan partai, dibandingkan dengan perwujudan hak-hak dasar masyarakat luas menjadi negasi pada perwujudan keadilan sosial, maka tak heran ketika delegitimasi terhadap pemerintah muncul dominan dimasyarakat, gejala kemiskinan yang tiap tahun semakin bertambah, pengangguran, dan keterbelakangan yang semakin sulit terbendung entah apa yang menjadi indicator keberhasilan pembangunan negeri ini, bila yang terjadi justru proses pemiskinan yang berkepanjangan dan sistemik yang makin menambah derita masyarakat.

Saatnya mendorong Penguatan demokrasi
Era transisi demokrasi pasca reformasi dewasa ini, diperlukan upaya strategi dalam mendorong terwujudnya kultur demokrasi yang sehat, guna menjamin hak-hak individual dan social berupa hak sipil, politik, ekonomi, social, dan budaya. Hal ini dapat terjadi dengan adanya ruang partisipasi yang aktif bagi masyarakat, yang nantinya akan membentuk emansipasi indivu dan social pada masyarakat baik local maupun nasional maka upaya pemberdayaan dan pendidikan politik bagi masyarakat luas harus tercipta dengan kepeloporan kaum muda. sebab menumpuhkan harapan pada partai politik sebagai lokomotif dalam mendorong proses demokrasi akan menghadirkan pesimis sebab kubangan eksklusifisme politik dan elitisme masih mencekoki sebagian besar tubuh organisasi ini, sehingga tak heran ditengah pro kontra elit politik akan adanya calon independent, maka Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah, Senin (23/7) melalui jalur perseorangan, warga negara Indonesia kini dapat memcalonkan diri sebagai gubernur, walikota, dan bupati selain melalui partai politik (Kutipan Putusan MK Nomor 5/PUU-V/200T).

Hal ini mungkin menjadi antitesa produktif bagi partai, dengan demikian partai politik niscaya harus berbenah diri merevitalisasi peran politiknya dalam mewujudkan demokrasi yang kondusif di tanah air.

Dalam piramida social yang terfragmen dari gologan elit (State), menengah dan grass root (massa), maka pemikir demokrasi kontemporer menempatkan golongan menengah (middle class) dalam hal ini kaum muda harus mengemban peran politik, alasanya cukup tegas dan lugas, bahwa kaum mudalah yang selalu mewarnai sejarah negeri ini sebagai pejuang pelopor demokrasi (vanguard fighter for democracy) yang berbasiskan pada nilai-nilai utama kehidupan. Tanpa lelah mereka menggulingkan rezim soeharto, merobohkan kediktatoran orde baru. Hingga hari ini, adakah kekuatan lain yang mampu menandinginya? Yang paling utama, kaum mudalah yang telah menulis dengan darah, penjara, demi tegaknya nilai-nilai demokrasi dinegeri ini.

Peran Politik Pemuda dalam Penguatan Demokratisasi Lokal
Konsolidasi demokrasi sebagai upaya rekonstruksi bagunan demokrasi dinegeri ini, dengan tetap menempatkan kaum muda sebagai pelopor. Sebab peran strategis tersebut menjadi penting dalam mengimbangi dominasi elit, control kebijakan, dan mediator antara massa rakyat dan elit penguasa agar artikulasi nilai-nilai demokrasi dapat terwujud, yang manifest dalam kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro rakyat.

Dalam upaya mendorong konsolidasi demokrasi tersebut, meskipun yang menjadi kendala adalah pertama kaburnya kelas menengah akibat dominasi elit penguasa menjadikan sulitnya mengidentifikasi kelompok tersebut, kedua, rezim orde baru yang masih menguat meskipun reformasi telah bergulir namun keberlanjutan watak dan karakter politik elit masih kental orde baru, ketiga lemahnya pendorong konsolidasi Demokrasi. Untuk itu ruang transformasi dalam proses penyadaran menjadi penting agar kesepahaman bersama dapat terjalin dalam ranah kedekatan perspektif akan domokrasi dan lebih dari itu yang terpenting adalah terciptanya prilaku yang berbasis nilai yang seharusnya terbina dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kaum muda yang masih eksis diharapkan dapat mengawal tiap agenda perubahan dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat, ramainya pesta demokrasi dibeberapa wilayah di tanah air, termasuk Sulawesi tenggara pada November 2007 mendatang, tentu tak hanya bermakna pesta dan huru hara kontestan calon kandidat dan tim suksesnya, yang hanya dimaknai sebagai ritual procedural berdemokrasi yang kadang menyulut konflik antar kelompok kepentingan. Akan tetapi pesta demokrasi harus diterjemahkan secara substantive akan makna pesta demokrasi itu sendiri, dan lebih dari itu tentu pembaharuan system dan mekanisme pilkada harus tetap fair. Politik uang (mone. politic) dan janji palsu sang calon pemimpin terkadang menjadi fenomena actual tiap pilkada, semoga prilaku politik band ini tak terpahami sebagai kelengkapan pesta dalan proses pilkada sehingga berdemokrasi menjadi Utopia.Dalam menghadapi kondisi tersebut, kaum muda harus berperan aktif dalan mengawal tiap proses demokrasi agar tidak tercedrai dan lebih dari itu harus tetap mengupayakan terciptanya nuansa demokrasi yang lebih baik dimasa datang, dengan menjejaring gerakan ekstra sampai intra parlemen penyelenggaraan pendidikan politik dan pemberdayaan bagi masyarakat guna peningkatan emansipasi social dan penguatan kohesi social pada ragam komunitas agar tidak terjebak dalam sentiment politik etnis dan dapat meretas polarisasi civil society. Sehingga semangat kebersamaan dan egalitarianisme menjadi pengikat antar berbagai kelompok maupun individu dan tidak menjauhkan kita dari nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai sekarang tak sepatutnyalah kita terus-terusan mengutuki kegelapan tapi marilah mulai menyalakan lilin pengharapan, guna perwujudan substansi demokrasi dinegeri kita. *** Semoga !!!.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: