Golput dan Demokrasi “Kaum Penjahat”

Posted on Juni 16, 2009. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , , |

Mencermati perkembangan politik dan partai politik akhir-akhir Ini ada beberapa fenomena yang patut menjadi catatan penting. Beberapa hal tersebut antara lain soal jebloknya kredibilitas partai politik dan besarnya angka golput (golongan putih) masyarakat dalam setiap pemilihan kepala daerah (pilkada).Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis beberapa waktu lalu memperlihatkan bahwa kepercayaan publik terhadap partai politik saat ini benar-benar Jeblok dan berada pada titik nadir. Kredibilitas par pol hancur. Parpol seolah tengah mendapat kartu Mining!

Dalam survei tersebut, publik menempatkan parpol diurutan paling buntut (11 %) setelah birokrasi (11 %), ormas (24 %) dan media massa (31%) sebagai lembaga -ang dianggap mampu menyuarakan kepentingan rakyat. Balikan, parpol juga mendapat cap sebagai lembaga yang hanya bekerja untuk dirinya sendiri dan paling tidak bisa bekerja sesuai perannya (42 %).

Rendahnya kepercayaan publik terhadap parpol tersebut akhirnya berimbas pada tingginya tingkat golput di masyarakat dalam beberapa pilkada. Kasus tingginya golput pada pil-gub Jawa Tengah yang mencapai lebih dari 46 persen serta lebih 35 persen pada pilkada Jawa Timur adalah bukti nyata. Jebloknya kredibilitas parpol

Jelas terjadi karena kelakuan elite-elite parpol yang sangat buruk, suap menyuap, korupsi, moral yang patut dipertanyakan, oligarkhl partai yang masih begitu kental serta sumbangsih yang minim atas kemaslahatan publik. Pendek kata, yang terjadi justru sebuah diskoneksi {dis-connected democracy) antara partisipasi politik warga dengan sepak terjang parpol.

Mencermati rendahnya kepercayan publik tersebut, pertanyaannya apa yang harus dilakukan parpol? Saya kira tak ada kata lain yang lebih tepat selain instropeksi yang hiirus dilakukan secara fundamental dan radikal oleh partai-partai politik. Parpol harus mulai melihat apakah kebijakan-kebijakan yang diproduksi selama Ini telah bersinggungan langsung dengan kondisi ril masyarakat. Begitu pun bandul pendulum kebijakan-kebijakan parpol harus lebih dicondongkan ke arah perubahan terhadap kesejahteraan hidup masyarakat. Dengan begitu, parpol diharapkan mampii menjadikan demokrasi lebih bermakna-meminjam istilah Tornquist (2004), untuk seluruh lapisan masyarakat.

Dalam sistem demokrasi modem, eksistensi partai politik merupakan sebuah keniscayaan. Bahkan, dalam ukuran-ukuran tertentu keberhasilan demokrasi secara tepat dapat dilihat dari bagaimana sebuah partai politik menjalankan fungsinya untuk menjalankan agenda-agenda publik yang bermanfaat. Tidaksaja bagi konstituen pemilihnya, melainkan juga bagi seluruh komponen bangsa. Pada titik Inilah, maka keberadaan partai politik yang sering kali hanya digunakan sebagai kendaraan politik elite partai untuk mencapai tangga kekuasaan, ketimbang sarana mendidik masyarakat berdemokrasi harus mulai dikikis. Demikian Juga niat men-

jadikan parpol sebagai alat untuk memperkaya diri dan demi kepentingan yang amat pragmatis harus Jauh-jauh dibuang dari kamus para kader partai politik. Tanpa kesadaran itu, dapat dipastikan yang terjadi Justru sebuah degadrasi dan apatisme publik terhadap partai politik.

Rontoknya kepercayaan publik atas parpol jelas bukan sesuatu yang datang tiba-tiba begitu saja. Masyarakat menjadi apatis karena drama yang disuguhkan di hadapan mereka tiap hari adalah pertikaian, bagi-bagi kekuasaan, politik uang, korupsi oleh anggota berbagai partai politik di parlemen, serta perampokan uang rakyat atas nama demokrasi. Kasus tertangkapnya beberapa anggota DPR oleh KPK karena kasus suap adalah contoh telanjang yang bisa dilihat oleh jutaan mata masyarakat.

Dalam konteks seperti itulah, maka menjadi sah untuk mengatakan bahwa model demokrasi yang berkembang di Indonesia saat ini sesungguhnya adalah demokrasi yang hanya memudahkan orang bernegosiasi dengan kekuasaan. Memang terdapat sistem demokrasi, tetapi baru sebatas formalitas dan prosedural, belum merambah ke ranah subtansial.

Padahal, sesungguhnya, partai politik mempunyai peran signifikan dalam membangun kehidupan yang demokratis. Perfama, parpol punya peran signifikan sebagai sarana pendidikan warga negara. Kedua, sebagai sarana seleksi kepemimpinan dengan menjaring, menyeleksi, serta memilih calon pemimpin yang mempunyai visi untuk kemajuan bangsa. Ketiga, sebagai artikulasi kepentingan, yakni membawa aspirasi yang ada dalam masyarakat untuk diteruskan kepada lembaga per-wakilan yang bertugas merumuskan kebijakan. Keempat, partai politik berfungsi mengo-munikasikan atau saling menyampaikan pesan politik, aspirasi politik baik internal maupun eksternal.

Konsekuensi dari itu semua, partai politik harus mulai melakukan penataan dan perubahan mendasar. Parpol perlu mereformasi diri, lebih transparan, demokrastis serta mengubah paradigma kebijakan. Jika partai politik tidak segera beranjak dari peran konvensional perebutan kekuasaan, maka sig-nifikansinya akan semakin memudar dan ditinggalkan rakyat.

Keberadaan partai politik di alam demokrasi tidak boleh memunculkan apa yang oleh Juan J Unz (2001) disebut dengan “demokrasi kaum penjahat”. Karena dengan banyaknya kasus korupsi di semua Uni serta pemanipulasian hak-hak rakyat oleh penguasa dan partai politik dan juga penjarahan terhadap kekayaan negara, benih-benih demokrasi kaum penjahat sesungguhnya mulai tumbuh.

Maka, ke depan yang mendesak dilakukan adalah mengembalikan heklkat peran dan fungsi partai politik yakni sebagai sarana penyaluran aspirasi rakyat. Berbagai manuver elite partai yang seringkali hanya mengejar kekuasaan harus mulai dikikis. Jebloknya kepercayaan publik terhadap parpol jelas merupakan kartu kuning untuk parpol agar segera berbenah dan instropeksi!

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: