Fenomena Kepemimpinan dan Komitmen pada Rakyat

Posted on Juli 10, 2009. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , |

Oleh Djuwari
Tetapi di antara kepemimpinan institusi pendidikan atau akademisi, militer dan perusahaan menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kepemimpinan militer dan kepemimpinan perusahaan sama-sama menggunakan kepemimpinan yang lebih demokratis. Sebaliknya, kepemimpinan institusi pendidikan terbukti cenderung tidak demokratis.

Jika pemimpin memiliki komitmen tugas dan tanggungjawab pada rakyat, maka sosok pemimpin bisa dilihat dari bingkai peran dan gaya kepemimpinannya. Dari peran dan gaya kepemimpinan itulah, seorang pemimpin bisa dikategorikan demokratis atau distributive (Duffy, 2007). Faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik erat dengan bingkai sebagai refleksi tipe kepemimpinannya.

Aneka faktor tersebut dari negara yang satu dengan negara lain juga mengekspresikan bingkai yang berbeda pula. Oleh karena itu, jika ada penelitian yang dilakukan di setting yang berbeda maka akan menghasilkan temuan yang berbeda pula. Berkaitan dengan kepemimpinan dan persoalan bangsa, ada fenomena dari negeri Paman Sam berkaitan dengan ide dan temuan berkaitan kepemimpinan demokrasi antara akdemisi, militer, dan perusahaan.

Temuan riset yang membuat kesan beda dalam suasana konferensi internasional di Malaysia baru-baru ini, juga disisipi petuah seorang jenderal dari the real Asia sekaligus kesadaran akan bahaya praktek money politics dan hambatan logistik di Papua New Guinea. Tanpa mengesampingkan puluhan temuan yang lain, dalam tulisan ini sengaja tiga fenomena tersebut saya paparkan.

Ada yang lebih menggelitik pikiran kita manakala ada riset berkaitan dengan kepemimpinan yang membandingkan antara kepemimpinan akademisi, militer, dan perusahaan. Penelitian oleh Prof Dr Michael F Duffy, dari Minot State University, North Dakota, Amerika, berjudul A Comparison of Military, Corporate, and Academic Leadership Roles, mengambil sample 120 responden semuanya di Amerika. Masing masing dari akademisi, militer, dan perusahaan 40 orang.

Riset Guru Besar Amerika ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, bahwa kepemimpinan militer dan perusahaan di negeri Paman Sam ini sama-sama menerapkan kepemimpinan demokratis.

Tetapi di antara kepemimpinan institusi pendidikan atau akademisi, militer dan perusahaan menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kepemimpinan militer dan kepemimpinan perusahaan sama-sama menggunakan kepemimpinan yang lebih demokratis. Sebaliknya, kepemimpinan institusi pendidikan terbukti cenderung tidak demokratis.

Kedua, dijelaskan bahwa kepemimpinan institusi pendidikan cenderung distributed. Menurut Michael Duffy, kepeimpinan distributed digambarkan dengan adanya partisipasi hanya orang-orang terpilih saja (the only selected members). Adapun kepemimpinan demokrasi ditandai adanya beberapa karakteristik.

Ciri-cirinya adalah keterlibatan semua anggota organisasi, senantiasa membuka dialog, partisipasi semua anggota, empathy, dan semua anggota punya pengaruh dalam organisasi. Semua poin karakteristik tersebut, khusus kepemimpinan akademis di dalam institusi pendidikan kalah jauh skornya dibanding dengan organisasi militer dan perusahaan.

Hal yang sempat didebatkan atau dipertanyakan oleh audiens adalah dua temuannya yang menyatakan, bahwa kepemimpinan institusi pendidikan sangat jauh kurang adanya daya kreatifitas untuk penemuan baru dalam organisasi (inventive).

Dibandingkan dengan kepemimpinan militer dan perusahaan, institusi pendidikan mean score-nya 1.786. Adapun kepemimpinan militer dan perusahaan masing masing 4.600 dan 4.927. Tetapi ketika dibandingkan dengan tingkat inisiatif atau prakarsa, kepemimpinan istitusi pendidikan lebih sedikit tinggi dibanding kepemimpinan militer dan perusahaan. Untuk kepemimpinan institusi pendidikan 4,583, adapun militer 3,050 dan perusahaan 3,610.

Bagaimana bisa terjadi, bahwa institusi pendidikan lebih tinggi prakarsanya tetapi lebih jauh rendah tingkat temuan barunya (inventive) bagi organisasi? Prakarsa digambarkan senantiasa mengambil keputusn dengan cepat tanpa menunggu. Prakarsa digambarkan segera mencari ide sebagai bahan pengambilan keputusan.

Sifat sifat ini biasanya justru lekat dengan militer dalam kondisi misalnya senantiasa dalam kegentingan. Adapun inventif secara naluri seharusnya mendapat tempat dalam lingkungan ilmiah atau suasana akademis yang identik dengan keilmuan dan temuan baru.

Michael Duffy berpendapat, bahwa setting yang berbeda dengan multi faktor sosial, budaya, ekonomi, politik serta tingkat perkembangan ilmu dan teknologi yang berbeda, maka hasil penelitian diasumsikan berbeda pula.

Pada dasarnya, dia juga menyadari, bahwa penelitiannya baru tahap menguji metode penelitian (testing the validity of research method). Meski inisiatif juga terkait dengan pencarian ide sebagai bahan pengambilan keputusan dia menyatakan bahwa, ‘A lot of initiatives do not always produce invention’. Inilah yang patut dicermati. Setidaknya, ada fenomena baru dalam institusi apapun jika statement tersebut menjadikan dalil kehidupan organisasi.

Fenomena lain adalah sebuah komitmen seorang jenderal sebagai salah satu key note speaker dalam konferensi tersebut. Ada pepatah sekaligus petua yang sangat berkesan dan menarik perhatian. Entah kata-kata filosofis. Entah kata-kata mutiara. Ataukah kesengajaan sebuah kalimat yang dipersiapkan khusus dalam pembukaan ceramahnya agar memikat audiens dari berbagai manca negara. Tetapi ini benar-benar terjadi dan memukau peserta konferensi dari berbagai benua. Kata-kata tersebut adalah sebagai berikut.

“Jika rakyat sebuah negara bodoh, jika rakyat sebuah negara miskin, dan jika rakyat sebuah negara terbelakang, itu bergantung pada siapa pemimpinnya”. Secara singkat kata-kata tersebut diakhiri dengan kalimat, “Thus, the quality of our nation depends on the quality of our leaders”.

Sebagai salah satu key note speaker tersebut adalah Jenderal Tan Sri Dato’ Seri Hj Abdul Aziz Bin Hj Zainal, menteri pertahanan (the chief of defense force), Malaysia. Jenderal dari the real Asia ini menyajikan makalah berjudul Leadership in Military/Public Services vis-à-vis Corporate World. Dalam uraian yang hanya terpampang di powerpoint-nya, dia sebagai pemimpin di bidang militer senantiasa menjunjung tinggi moral dan komitmennya pada pelayanan rakyat (the services for the nation).

Fenomena ketiga adalah Dr Murray Predeaux, dari School of Business, James Cook University Townsville, Queensland, Australia, dengan risetnya di Papua New Guinea berjudul Unraveling Leadership Barriers in Papua New Guinea. Sebenarnya ada 14 hambatan efektivitas pemimpin di negeri ini.

Hanya saja yang paling krusial, pertama adalah kurangnya infrastruktur berupa jalur angkutan atau logistik. Kedua, kekayaan seseorang senantiasa dijadikan tolok ukur untuk menjadi pemimpin.

Siapa yang uangnya banyak mereka bisa membeli dukungan menjadi pemimpin. Di sinilah, faktor hambatan yang menjadikan kurang efektifnya pemimpin di negeri itu.

Dari tiga fenomena di atas, maka bagi Indonesia negeri yang dulu dikenal dengan gemah ripah loh jinawi ini bisa mengambil hikmah. Faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik senantiasa lekat dengan bingkai gaya dan peran kepemimpinan negeri ini.

Tentang perdebatan besar kecilnya kadar inisiatif suatu organisasi yang berbeda, yang jelas tidak sedikit ketimpangan sosial, budaya, ekonomi dan politik disebabkan kurangnya inisiatif, suatu tindakan segera. Lihat saja sejarah proses penyelesaian bencana lumpur Sidoarjo, pengibaran bendera RMS saat presiden tiba, tindakan anarkis saat pilkada di Tuban dan seabreg ketimpangan lain yang semuanya gambaran kurangnya inisiatif untuk mengambil tindakan lebih dini. Pendek kata, saling menunggu.

Perlu dipikirkan dalam nurani yang dalam benarkah kualitas pemimpin yang telah atau akan kita pilih di penjuru Nusantara ini melalui pilpres, pilkada, wakil legislatif, maupun calon independent, menjunjung komitmen, bahwa mereka siap menjadi wadah the services for the nation.

Oleh karena itu, siapa pun pemimpinnya jika terpilih melalui money politics, maka budaya ini senantiasa menggerogoti eksistensi bangsa karena menjadi penghambat (barrier) efektivitas pemimpin negeri tercinta ini.

Djuwari adalah Dosen STIE Perbanas Surabaya

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: