Jangan Sampai Koridor Keterbukaan Sampai Kebablasan

Posted on Juli 10, 2009. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , , |

Oleh Drh. Chaidir, MM
Isu demokratisasi dan hak asasi manusia merupakan isu yang paling menonjol yang melanda segenap penjuru dunia chlam satu dekade terakhir, terutama sejak berakhirnya perang dingin dengan kernenangan di pihak barat. Barat tadinya menghadapi musuh bersama yaitu komunis. Tapi sejak komunis rontok di Uni Soviet dan negara-negara di blok Eropa Timur, barat mencari isu baru, yakni demokratisasi, hak asasi manusia (HAM) dan isu lingkungan hidup.

Isu tersebut dengan cepat melanda Indonesia karena Indonesia sangat terbuka bagi arus informasi. Tidak seperti banyak negara-negara lain bahkan. negara-negara maju sekalipun, di Indonesia orang bebas memiliki parabola.

Bmrat (paling tidak perspektif mereka) bahwa merekalah yaag paling optimal memberikan atmosfir terhadap demokratisasi, mereka:pula yang paling tinggi menjunjung HAM dan mereka yang paling peduli terhadap lingkungan hidup. Apa yang dilakukan barat semua benar. Dan apa yang dilakukan negara-negara selatan semua salah

Democracy dan Human Right (HAM) memang memiliki nilai universal, tapi lingkungan msayarakat sangat menentukan seberapa tinggi apresiasi masyarakat terhadap proses demokratisasi dan HAM itu. Masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah atau yang hidup dalam pola tradisional, sukar diharapkan akan memberikan apresiasi terhahap demokratisasi dan HAM, walaupun sebenarnya nilai-nilai yang mereka praktekan hari kehari penuh nilai luhur.

Membandingkan Amerika yang telah merdeka lebih dari 200 tahun dengan negara kita yang baru akan berulang tahun ke-50, jelas tidak adil. Melihat cara pandang barat terhadap demokrasi, saya berkeyakinan, cara pandang kita memang berbeda (bukan hanya sekedar ingin tampil beda lho!). Mereka membangun demokrasi untuk demokrasi.

Sedang kita, demokrasi meupakan alat atau metode mencapai tujuan lebih mulia, yaitu mewujudkan kesehjateraan masyarakat pada tingkat lebih tinggi. Makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.

Oleh karena itu, menurut hemat saya demokratisasi yang kita kembangkan bukan demokratisasi dengan nilai liberalisasi seperti apa yang terdapat dalam konsep pemikiran barat. Demokrasi kita haruslah demokrasi yang santun, yang memberi koridor yang selebar-lebarnya terhadap toleransi dan faham kekeluargaan.

Saya kira faham kekeluargaan inilah yang sampai HUT-50 republik kita sangat dominan dan selalu relevan memecahkan masalah yang tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jangan ganti dia dengan demokrasi caci maki. Dengan faham kekeluargaan, kita selalu mampu memperkecil masalah besar dan kemudian menghilangkannya. Ini penting artinya, karena bangsa kita bangsa berbilang kaum, terdiri dari aneka ragam suku, adat istiadat, agama dan bahasa. Dan apa boleh buat, tingkat pendidikan bangsa kita secara umum pada HUT ke-50 ini masih rendah.

Sekitar 75 % dari jumlah penduduk baru tamat SD. Dengan SDM yang demikian saya menganggap masalah utama kita dibidang politik pada penghujung abad ke-20 sampai awal abad ke-21 nanti adalah soal persatuandan kesatuan bangsa.

Dengan struktur SDM demikian, membuka peluang timbulnya perpecahan, adu domba, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesenjangan ekonomi, ketimpangan sosial dan kecemburuan sosial. Apalagi kita sudah muiai memasuki ekonomi pasar bebas. Sebenarnya ekonomi pasar tidak menjadi persoalan betul, asal kebijaksanaan pemerintah berpihak kepada golongan ekonomi lemah, selalu berupaya menghindari praktik- praktik negatif dari konglomerasi.

Demokrasi yang kita kembangkan bukan demokrasi yang mengeskploitir ketimpangan-ketimpangan itu, apalagi yang menghidupkan pertentangan kelas dalam masyarakat.

Ini jelas tidak terpuji. Untuk apa kita mencontoh demokrasi barat, bila hanya membuat wajah kita babak belur, merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan.

Kritik-kritik dari kelompok yang anti kemapanan, dalam batas-batas tertentu masih bisa saya terima. Namun saya tak habis berfikir, demokrasi seperti apa sebenarnya yang mereka harapkan.

Dalam banyak hal, Indonesia justru terbuka, di negeri kita semua orang yang mampu (secara ekonomi) boleh memiliki antena parabola, sehingga arus informasi dari manca negara sangat lancar. Di negara tentangga (Singapura dll), masyarakat tidak bebas memiliki para bola. Bahkan di Italia saluran jaringan televisi dipenuhi stasiun-stasiun domestik.

Koridor keterbukaan yang dikembangkan oleh pemerintah harus dimanfaatkan secara dewasa, arif dan bijaksana. Jangan sampai (kebablasan).

Terhadap hak asasi manusia cara pandang kita berbeda. Di mata barat hak-hak individu sangat dominan. Pemerintah sudah menjelaskan kepada dunia betapa tingginya harkat dan martabat manusia itu, ditinjau dari sudut Pancasila dan UUD 1945. Tetapi memang sulit. Barat selalu melihat dari kacamata mereka. Ketika ada orang tertembak mati, muncul anggapan bahwa kita tidak melaksanakan HAM.

Berbeda ketika FBI menembak mati 50 orang pengikut ajaran baru di WACO, TEXAS. Barat hanya bergumam sebentar. Jika kita ingin mencongkel-congkel, coba lihat suku Indian yang tergusur dari New York, atau suku Aborigin yang tersingkir di Australia, suku Mouri di Selandia Baru, dst. Banyak contoh tidak adilnya barat bersikap.

Menurut saya isu demokratisasi dan HAM akan selalu menghantam kita karena media informasi dikuasai oleh Barat. Sehingga informasi itu tidak menjadi berimbang.

Bukan berarti saya membenci Barat. Sama sekali tidak. Saya hanya mengemukakan persepsi saya tentang arus deras informasi yang membawa serta demoktratisasi dan HAM itu.

Pemuda sebagai pemimpin masa depan Bangsa harus memiliki saringan (filter) canggih sehingga mampu memilah-milah informasi yang masuk. Boleh ditelan semua informasi tetapi “black box” dalam diri kita harus mampu melakukan “processing” secara cermat. Sehingga outputnya adalah sebuah tindakan yang arif.

Pemuda jangan terbawa arus informasi yang tidak jelas muaranya. Kalau terbawa arus, maka kita akan diombang-ambingkan oleh arus itu.

Dan kalau itu yang terjadi, maka pemuda bakal kehilangan identitas dan predikat sebagai ahli waris cita – cita perjuangan bangsa.

Tetapi untuk berucap “right or wrong is my country” pada HUT ke 50 ini memang juga tidak model lagi. Kita juga tidak bisa semau gue dalam pergaulan masyarakat internasional dewasa ini.

Karena semua sudah saling mempengaruhi dan saling interdependensi Kita tentu tidak mau dicap sebagai “odd man out” (orang aneh) karena orang aneh tidak layak diajak berunding.

Yang baik adalah mengantipasi isu tersebut dengan meningkatkan integritas pribadi dan meningkatkan pelaksanaan Pancasila dan UUD 45 dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Sebab nilai nilai luhur yang terdapat didalam Pancasila itu, universal. Mencari jawaban lain akan memerangkap kita ke masalah yang lebih rumit.
Sumber: http://www.chaidir.com

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: