Demonstran Family

Posted on Juli 17, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, , , |

Rakyat pasti menang melawan penindasan
rakyat kita pasti akan menang
Rakyat pasti menang merebut kedaulatan
rakyat kita pasti akan menang
Revolusi… revolusi..

revolusi sampai menangAlunan lagu itu dinyanyikan ribuan buruh ketika menggelar perayaan Hari Buruh Internasional di Bundaran Hotel Indonesia 1 Mei 2008. Suara pun menggema bercampur dengan sesaknya manusia dan polusi Jakarta. Sayup-sayup terdengar suara gadis mungil di antara suara ribuan buruh yang terbakar semangatnya.

Siapa sangka, suara lantang itu keluar dari mulut anak yang baru berusia 6 tahun. Seakan tidak ia mau kalah dengan teriakan ibu dan ayahnya, gadis mungil itu pun juga ikut menyuarakan ketertindasan yang di rasakan ribuan buruh. “Awaslah Inggris dan Amerika..musuh rakyat sedunia…yang hendak hancurkan persatuan…dengan sesuka hatinya… Hancurkanlah…siapa…musuh kita yang mana…itulah Inggris Amerika…Hidup buruh,” teriak gadis mungil ini sambil memegang kertas bertuliskan ‘Republik Mimpi Yes, SBY-JK Sangat Demo-Crazy.’

Gadis yang kini masih duduk di taman kanak-kanak nol besar itu, bernama Hilva Berlin Zettira. Dia merupakan anak Subari dan Sofrul Khoirina. Keduanya merupakan pekerja pabrik PT. Inspiran Anditama, sebuah perusahaan garmen di kawasan industri Jatake, Tangerang. Hilva sendiri mengaku senang ikut membantu perjuangan kedua orang tuanya. “Karena ibu baik, saya ikut,” jawabnya singkat.

Sejak dalam kandungan, Hilva kecil sudah sering diajak ibunya beraktifitas dalam serikat buruh di Tangerang. Bahkan sejak usia 2 tahun, dia juga pernah ikut kedua orang tuanya berjalan kaki ke Istana Negara, untuk memperjuangkan nasib buruh. Menurut Hilva, dia kasihan dengan kondisi orang tuanya yang serba terjepit. “Kerjanya di mesin panas, trus langsung capek, langsung istirahat,” kata Hilva.

Menjelang hari yang populer dengan sebutan May Day, perusahaan tempat kerja kedua orang tua Hilva mulai di dera permasalahan. Perusahaannya terancam tutup dan akan di-take over-kan ke pengusaha lain. “Dari 1480 karyawan, 445 adalah karyawan tetap dan selebihnya karyawan kontrak termasuk suami saya,” ujar Khoirina, ibu Hilva, disela yel-yel ribuan buruh.

Selain bekerja dalam perusahaan yang sama, Khoirina dan suaminya, keduanya juga aktif dalam pengurus Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Tak heran kalau Hilva sering diajak beraktifitas. “Saya tidak mampu bayar pengasuh. Sehabis pulang sekolah dia juga sering sendirian di rumah, kebetulan rumah kita dekat dengan saudara,” katanya.

Bagi Khoirina, sistem ketenagakerjaan di Indonesia masih sangat merugikan kepentingan pekerja. Selain tidak ada kepastian kerja, kebijakan pemerintah lebih mengedepankan kepentingan pemodal. Bahkan ketika dia memperjuangkan hak buruh di perusahaannya, ancaman PHK selalu ada di depan mata. “Kita tetap berkomitmen agar karyawan dipekerjakan kembali dengan status karyawan tetap,” katanya.

Menurut Subari, ayah Hilva yang sampai detik ini masih sebagai karyawan kontrak, akar permasalahan terletak pada manajemen perusahaan. Kebijakan perusahaan berdampak pada kehidupan keluarga buruh ini. Meski sudah bertahun-tahun bekerja, keluarga yang mendambakan punya rumah sendiri ini, tetap belum bisa mewujudkan impiannya. Mereka hanya mampu menyewa kamar di daerah Jatake Asem, Jatiuwung, Tangerang seharga Rp 200 ribu perbulan, belum termasuk listrik. “Kemampuan kami hanya segitu, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Akan tidak cukup dengan gaji yang serba pas-pasan,” katanya.

Subari dan Khoirinah berharap agar anak semata wayangnya tidak senasib dengan mereka. “Ini (unjuk rasa) untuk pendidikan saja sebenarnya. Besok kalau nalarnya sudah bisa mencerna, tinggal kasih pengarahan. Kenapa beras mahal, kenapa ayahnya begini. Kalau dia sudah mengerti, akan gampang kasih pengarahannyak,” katanya.

Pilihan Subari ternyata membawa hasil. Hilva merasa senang ketika diajak berunjuk rasa atau ikut memberi pelatihan di serikat buruh. Dia semakin bangga dengan anaknya tersebut. Meski baru duduk di TK nol besar, dan sering ikut aktifitas ayahnya, hal itu justru membuat si anak aktif. “Nilainya justru bagus-bagus. Dia juga sudah mulai bisa menghapal angka dan nama hewan dalam bahasa Inggris,” katanya.

Semangat keluarga buruh ini, terus menggema seiring lagu-lagu perjuangan yang mereka nyanyikan:Jangan kembali pulang/sebelum kita yang menang//Walau harus mati di medan juang/demi rakyat ku rela berkorban…//

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: