Demokrasi dan Kesadaran Politik

Posted on Juli 21, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, |

Simpul Demokrasi PLaCIDS Averroes. HAM (Hak Asasi Manusia), baru bisa ditegakan bila diproses dengan mekanisme demokrasi yang pelaksanaannya bersumber pada ideologi Pancasila sebagai nilai luhur bangsa Indonesia. Artinya, bahwa pancasila yang berisikan nilai-nilai yang kompleks dimana nilai kemanusiaan tertuang didalamnya dengan menjunjung tinggi, “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” akan terlaksana bila diproses melalui mekanisme demokrasi dimana dalam mekanisme demokrasi, rakyat yang utamanya menjadi pemegang kedaulatan negara mempunyai peranan yang diakui dan hak untuk memenuhi tuntutan dan apirasinya.

Realita demokratisasi di Indonesia adalah tidak sama dengan konsep idealnya, bilamana konsep ideal itu mengacu pada nilai yang terkandung dalam pancasila. Rakyat terdiri atas kelas, dimana realita yang ada membagi rakyat kedalam kelompok kelas. Rakyat kaya dan rakyat miskin. Diantara keduanya mempunyai hak yang berbeda baik dalam hukum, sosial, ekonomi, pendidikan dsb. Politik liberalisme berlaku untuk hal yang satu ini, dimana kemudian melahirkan kelas borjuis yang sertamerta memiliki nilai dan kapasitas yang berbeda dengan kelas dibawahnya sebagai satu kesatuan Warga Negara Indonesia.

Pancasila mengajarkan keadilan bukan kesetaraan
Kelas sosial di masyarakat semata-mata bukanlah ciptaan dari manusia, kelas itu bisa terbentuk dengan sendirinya, ada hukum alam yang berlaku dalam konsep kelas yang terbentuk. Artinya, kelas-kelas muncul mengikuti pola hidup dari masyarakat itu sendiri, dimana seperti yang kita tahu misalnya pada ukuran tingkat ekonomi yang menciptakan si kaya dan si miskin, ukuran ketaatan beragama menciptakan agamawan, bentuk fisik dan kekuatan fisik melahirkan kaum kuat dan kaum tertindas. Walaupun semua itu dikembalikan pada penciptaan atau pelabelan manusia itu sendiri dalam menciptakan kelasnya, namun sedikit banyaknya faktor eksternal seperti halnya alam ikut juga menentukan, karena siapa yang bertangung jawab dalam misalnya menciptakan orang kuat dan orang lemah, tentunya bukan manusia yang berhak menjawabnya, kalau kita kaitkan dengan keyakinan agama seperti yang tertuang pada butir satu pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Demokrasi selalu diagungkan sebagai sistem yang mulia, karena memang demokrasi memberikan hak kepada setiap orang untuk berpendapat dan menyampaikan aspirasinya, tapi ternyata demokrasi hanyalah cara ataupun mekanisme yang kemudian disalahgunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menguasai kelompok lain melalui hegemoni kekuasaan. Semua orang memiliki hak, hak pendidikan, hak makan dan minum dan hak-hak yang sesungguhnya berakar dari kebutuhan baik yang bersifat primer maupun yang bersifat sekunder.

Pendidikan Politik bukan Politik Pendidikan
Penghianatan demokrasi pancasila dan kelas-kelas sosial di masyarakat akan semakin langgeng, ketika masyarakat masih berada dalam taraf kesadaran politik yang masih rendah. Dan rendahnya kesadaran politik ini salah satunya diakibatkan oleh masih rendahnya pendidikan politik baik itu yang masuk dalam kurikulum pendidikan formal maupun yang secara umum dipraktekkan dan dipercontohkan pemerintah dan aparatur negara lainnya yang hakekatnya dilihat dan disaksikan masyarakat, seperti praktek-praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang terjadi sampai kelapisan terdekat seperti pada perilaku oknum polisi yang menilang kendaraan dan meminta sejumlah uang damai ataupun pungutan liar (pungli) dsb.

Masih lemahnya pendidikan politik ini, ditenggarai oleh masih terbelakangnya pelaksanaan dan konsep pendidikan di negara kita secara umum, karena jangankan untuk memberikan pendidikan politik dan demokrasi, mengatasi pengangguran saja masih belum terpecahkan, karena pendidikan bukan dijadikan sebuah jalan tapi sebuah alat.

Jika kita analogikan sebuah transportasi, maka pendidikan saat ini hanya sebuah kendaraan, ada yang berjenis sepeda, mobil, kapal dari yang biasa sampai yang mewah, sertifikat ataupun ijazah adalah bagaikan SIM ataupun STNK. Setelah kendaraan siap, maka selanjutnya adalah dijalankan untuk mencapai sebuah tujuan, namun ironisnya sang sopir tidak tahu jalan, atau jalan untuk mencapai tujuan itu tidak terpetakan dan pada akhirnya sang sopir dengan kendaraannya yang walaupun sangat mewah sekalipun tidak mengoperasikannya dengan baik dan tidak sedikit yang hanya menjadikannya perhiasan semata ataupun koleksi pribadi.

Pendidikan yang digelar di negara kita bukan mengajari pendidikan politik namun politik pendidikan, karena nyatanya banyak cara untuk mencapai gelar, dari adanya izajah palsu ataupun swastanisasi pendidikan yang kini berkembang dengan nama BHMN ataupun BHP, lagi-lagi ini merupakan praktek anti pancasila (tidak berperikeadilan) karena hanya orang kayalah yang memiliki peluang yang besar untuk berpendidikan.

Bukan demokrasi pancasila yang seharusnya kita persalahkan ketika kenyataannya sistem ini tidak berjalan dengan baik, yang harus kita pertanyakan adalah kinerja pemerintah dan perangkat-perangkat negara lainnya yang ada, termasuk kita sendiri sebagai masyarakat, karena tidak berjalannya sistem demokrasi pancasila disebabkan oleh banyak hal, seperti sudah digambarkan diatas yakni : 1. Adanya oknum aparatur negara yang membangkang, 2. Tidak pahamnya masyarakat atas sistem demokrasi pancasila tersebut yang diakibatkan oleh rendah atau tidak meratanya pendidikan politik di negara kita ini.

Ketika tingkat kesadaran berpolitik masyarakat sudah ada, maka niscaya dengan sendirinya sistem demokrasi pancasila itu sendiri akan berjalan, dengan tentunya didasari sikap patriotisme dan nasionalisme yang ada. Dengan begitu, maka kelas sosial yang sekarang ada karena penyalahgunaan kekuasaan lambat laun akan terhapus.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: