Demokrasi Meredam Radikalisme

Posted on Agustus 26, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, |

Oleh Rahimi Sabirin

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 159)Bila demokratisasi berjalan dengan jujur dan adil, maka secara otomatis aksi-aksi kekerasan dan radikalisme akan dapat diminimalkan. Sebaliknya, bila demokrasi hanya sebatas simbol dan slogan, – dimana kecurangan dan arogansi individu dan kelompok lebih dominan, – maka ketidakpuasan dan sikap frustasi kelompok lain akan berubah menjadi aksi kekerasan. Pada hakikatnya, demokrasi menjunjung tinggi kepentingan dan kebaikan bersama yang diputuskan berdasarkan musyawarah dan undang-undang. Semua kalangan diperlakukan secara manusiawi dan adil. Arogansi suatu kelompok atau negara akan menghancurkan nilai-nilai demokrasi dan menyuburkan bibit-bibit radikalisme dan terorisme.

Demokrasi Pasca Perang Dingin
Berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan keruntuhan Uni Soviet atau “kekaisaran” Komunis pada dekade tahun 1990-an, menjadikan demokrasi sebagai pemenang dalam pertarungan ideologi. Hal inilah yang mengilhami Francis Fukumaya dalam bukunya “The End of History”, yang menyimpulkan bahwa demokrasi adalah akhir dari sejarah, maksudnya demokrasi dianggap sebagai pemenang dari pergulatan ideologi yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia.

Di era Perang Dingin, antara Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Uni Soviet) terjadi persaingan untuk menyebarkan paham demokrasi dan Komunisme ke penjuru dunia. Kegagalan Dunia Ketiga—di era Perang Dingin—memberlakukan demokrasi parlementer menghadapkan elite negara pada dua pilihan pahit; menjadi Komunis atau jatuh ke tangan meliter. Amerika dan sekutunya lebih menyukai naiknya pemimpin meliter dibandingkan dengan lahirnya negara Komunis, dan karena itu peranan politik meliter ditolelir kalau tidak malah digalakkan untuk membentengi Dunia Ketiga dari serangan paham Komunis (Salim Said, Meliter Indonesia dan Politik; Dulu, Kini, dan Kelak, 2001, h. 130).

Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informatika membuat dunia sekarang ibarat seperti kampung kecil, apa yang terjadi di belahan penjuru dunia dapat kita dengarkan dan saksikan dalam hitungan menit, bahkan detik. Batas-batasan teritorial suatu negara seakan runtuh. Dengan kekuatan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang dimiliki Amerika, mereka mampu menyebarkan paham demokrasi ke seluruh lapisan masyarakat di penjuru dan mampu mempengaruhi warga dunia agar menjadikan demokrasi sebagai sistem dalam mengelola negara.

Demokrasi dan Islam
Barat dengan kekuatan pers dan teknologi informasi yang dimilikinya mampu menyebarkan ide demokrasi ke jantung dunia Islam. Tak ayal, masyarakat Muslim di seluruh dunia bisa “mengkonsumsi” ide demokrasi yang santer disebarluaskan oleh Barat. Hal ini tentu saja akan merombak struktur sosial dunia Islam yang telah mapan. Masyarakat Islam yang kebanyakan hidup dalam pemerintahan otoriter, menganggap perlu menerapkan konsep demokrasi dalam mengelola negara karena mereka telah merasakan pahitnya hidup dalam pemerintahan yang otoriter.

Demokrasi, untuk saat ini, dianggap sebagai satu-satunya sistem yang paling bisa meminimalisir penyelewengan kekuasaan oleh pemerintah dan untuk mencapai suatu tatanan masyarakat yang diidam-idamkan, yaitu masyarakat yang adil, makmur dan sejatera. Demokrasi saat ini ibarat jamur yang tumbuh subur di musim hujan dimana setiap negara sedang menuju ke arahnya, termasuk juga dunia-dunia Muslim. Yang menjadi persoalan adalah apakah model demokrasi liberal ala Barat yang harus diterapkan dalam dunia Islam?
Sebelum menjawab persoalan tersebut, agaknya kita patut memperhatikan bahwa demokrasi bukanlah suatu sistem yang sempurna, ia juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Di Barat sekarang ini, demokrasi telah melahirkan banyak anomali, ganjil dan menyimpang dari akal sehat, seperti kebebasan pers dan berkumpul serta berserikat—yang menjadi syarat mutlak bagi tegaknya demokrasi. Kebebasan pers telah melahirkan kebebasan pornografi dan kebebasan berkumpul dan berserikat menjadi landasan pembenaran atas hubungan, bahkan nikah sesama jenis; kaum homoseksual dan lesbian. Begitu juga dengan konsep kedaulatan rakyat telah merubah kebijakan pemerintah Amerika dari melarang peredaran minuman keras yang kemudian membolehkannya karena desakan warga Amerika.

Demokrasi yang hanya berupa prosedur-prosuder formal dalam mengelola kebijakan negara, tanpa mempunyai arah dan tujuan, hanya akan melahirkan sesuatu yang tidak mengenakkan dan irrasional, seperti yang terjadi di Barat. Penerapan demokrasi yang tidak mempunyai tujuan—yang disebut oleh (alm) Nurcholish Madjid sebagai empty procedure (prosedur kosong)—di semua negara non-Barat niscaya akan mengalami hal yang sama sebagaimana juga dialami oleh Barat.

Dalam demokrasi, rakyat adalah pemegang tertinggi kekuasaan dan kehendak rakyatlah atau atas persetujuan rakyatlah suatu Undang-undang dapat diterapkan. Berbeda dengan ajaran Islam, pembuat Undang-undang atau hukum hanyalah Allah Swt. Inilah yang melatarbelakangi sebagian kalangan umat Islam menolak demokrasi, karena suatu saat kehendak rakyat bisa saja bertentangan dengan hukum Allah Swt yang tercantum dalam Alquran. Atas dasar inilah Abul ‘ala al Maududi menawarkan konsep “Teo-Demokrasi”, artinya demokrasi dalam bingkai hukum Tuhan, tidak boleh menyalahinya.

Menurut Cak Nur, agar demokrasi tidak menjadi empty procedure, demokrasi harus bertujuan untuk mencapai perkenan Tuhan (Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius, 1997, h. 22). Sayangnya Cak Nur tidak secara tegas menyatakan bahwa demokrasi haruslah berlandaskan ajaran Islam, dia rupanya malu-malu menyatakan bahwa konsep demokrasi haruslah berdasarkan keyakinan suatu agama tertentu dan tidak menegaskan identitas keislamannya di tengah arus globalisasi dimana identitas antara satu umat dengan umat lainnya mulai kabur.

Secara intrinsik, Islam tidaklah bertentangan dengan demokrasi. Dalam Alquran disebutkan tentang konsep syura, dan kita dapat melihat bagiamana Nabi Muhammad Saw. mempraktekkan konsep syura dalam realitas sosial. Nabi Muhammad Saw. dalam meimpin umat Islam selalu menerapkan konsep syura dalam setiap masalah, kecuali dalam bidang hukum yang sudah jelas dalam Alquran. Dalam penerapan strategi perang Rasulullah Saw selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dan keputusan yang diambil adalah keputusan yang mendapat suara terbanyak meskipun tidak sesuai dengan keinginan Nabi Muhammad Saw.

Jadi jelaslah, demokrasi dapat kita temukan presedennya (contohnya) dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan orang yang paling mengetahui seluk-beluk agama Islam. Tapi yang harus kita tegaskan bahwa, demokrasi tidak dalam masalah akidah, ibadah, dan hukum yang sudah ditegaskan dalam Alquran. Demokrasi hanya dalam masalaah muamalat yang tidak dijelaskan dalam Alquran, atau Alquran menjelaskannya dalam bentuk global, tidak dalam masalah tekhnis. Dalam perosalan-persoalan tekhnis yang tidak disinggung dalam Alquran inilah kita bisa berdemokrasi di sana. Inilah konsep demokrasi Islam, demokrasi yang dijalankan di bawah payung hukum Allah Swt untuk memperoleh ridha-Nya.

Kita tidak ingin demokrasi yang sedang kita bangun di bumi tercinta ini menjadi demokrasi yang tidak mempunyai arah dan tujuan. Kita menginginkan demokrasi Indonesia sejalan dengan nilai-nilai agama Islam guna memperoleh ridha-Nya dan sebagai wujud pengabdian kita kepada-Nya. Sehingga demokratisasi yang dijalankan dengan benar, jujur dan adil dapat meredam fitnah, kerusuhan, konflik dan aksi terorisme.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: