Benih Demokrasi dan Tonggak Nasionalisme

Posted on September 2, 2009. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , |

Pemuda dan mahasiswa merupakan sosok yang senantiasa mengisi dan hadir dalam setiap etape sejarah. Dalam proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sepanjang sejarahnya posisi kaum muda menempati lokus yang khas. Pemuda memberi arti tersendiri bagi transformasi sejarah. Bisa disimak dengan seksama peran pemuda menjdi lokomotif pergerakan nasional semasa jaman kolonialisasi Belanda.

Progesifitas angkatan muda bumi putera (khususnya yang terdidik) kala itu, demikian mengesankan. Pemuda merasa memiliki tanggung jawab penuh atas masa depan bangsanya. Karenanya, mereka meninggalkan hal-hal yamg berbau pragmatisme dan hedonisme, dan terus konsisten mewujudkan idealismenya: mencapai Indonesia merdeka. Dalam konteks ini, kita akan selalu terkenang dengan momentum Sumpah Pemuda, yang diutarakan dalam kongres pemuda, 28 oktober 1928. kaum muda menyikapi realitas yang ada dengan idealismenya. Dengan cara inilah gerbong pergerakan senantiasa bergerak, oleh lokomotif perjuangan yang selalu berkobar.

Secara defacto dan dejure deklarasi SP pada 28 oktober 1928, merupakan goresan tinta emas sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir kaum kolonial. Oleh karena dengan deklarasi itu, fanatisme dan egosentris perjuangan yang bersifat kedaerahan (primordial) dapat dieliminer, luluh menyatu dalam semangat nasionalisme. Semangat inilah yang menjadi embrio persatuan dan melahirkan kekuatan yang sangat besar dalam berjuang, mengusir penjajah dan akhirnya meraih kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan yang dicapai bangsa Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945, sesungguhnya masih bersifat transisional bagi sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Sebab kemerdekaan yang dicapai belum bersifat Final goal, tetapi baru merupakan sebuah jembatan yang menjadi prasyarat dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut menunjukkan, bahwa tugas yang diemban pemuda belum selesai.

Sebab cita-cita ideal sebagaimana termaktub di dalam undang-undang dasar 1945 dan sederet pekerjaan berat lainnya masih menanti keterlibatan pemuda. Pertanyaanya mendasar yang kemudian muncul, apakah peran pemuda masih seefektif dan sesignifikan pada masa pra kemerdekaan dengan pasca kemerdekaan Indonesia? Adakah kemampuan pemuda untuk menjadi pelopor atau agent of change dalam mewujudkan cita-cita ideal Bangsa Indonesia? Adakah pemuda dalam berperan mendinamisir cita-cita ideal tersebut, selalu tampil sebagai central look dalam bingkai demokratisasi?

Pasca Kemerdekaan
Sebenarnya, secara obyektif sikap nasionalisme pemuda pada tanggal momentum SP 28 oktober 1928 itu, merupakan cradle of democracy dan sebagai titik tolak bagi spirit dan perjuangan kaum muda masa kini. Akan tetapi kalau kita arif dalam mencermati dan memaknai arti dinamika kehidupan ini, maka kita akan menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada pola atau frame kehidupan yang abadi atau absolut di bumi ini. Yang ada adalah perubahan. Seperti itulah tesis yang dikemukakan oleh Einstein dengan teori relatifitas-nya. dibalik idelisme atas sosok pemuda atau mahasiswa, terdapat banyak hal yang masih jauh dari harapan. Apalagi kalau dimensinya sudah berprespektif politik artinya, tuntutan perubahan merupakan suatu konsekuensi kehidupan yang harus dihadapi baik oleh seorang, maupun institusional seperti organisasi perkumpulan sampai kepada sebuah negra-bangsa. Seperti itulah yang tampak pada peran eksistensi pemuda pasca kemerdekaan Indonesia dicapai. Sadar atau tidak sadar, peran pemuda pasca kemerdekaan telah mengalami pergeseran orientasi.

Kalaulah pada pra kemerdekaan, pemuda msih bisa mempersatukan diri dengan sumpah pemudanya, oleh karena lebih didasari oleh kepentingan yang sama. Akan tetapi, makna esensial dari sebuah persatuan dan kebersamaan yang bersifat universal nasionalisme itu, secara perlahan mengalami penyusutan, disebabkan karena antara komponen pemuda ytang satu dengan lainnya, sudah memiliki varian kepentingan yang berbeda. Musuh yang dihadapi bukan lagi penjajah. Sebaliknya, justru, seingkali terjadi antar kelompok pemudalah yang saling berkompetisi. Para pemuda berkecenderungan berkompetisi antar sesamanya dalam mencapai ‘kepentingan’ kelompoknya (interest group) masing-masing

Sebagai konsekuensi dari implikasi persaingan itu, maka kecenderungan yang terjadi adalah suka dan tidak suka atau spektrum politik ‘balas jasa’. Pengakomodasian sumber daya yang ada, tidak lagi mempresentasikan secara komprehensif kepentingan yang ada., maka akibatnya terjadilah sindrom atau split kepentingan antar kelompok pemuda. Hal inilah yang menjadi benih berdirinya berbagai macam organisasi mengatasnamakan pemuda menjamur, baik secara independen ataupun sebagai underbow sebuah partai politik tertentu. Akibatnya perjalanan demokrasi di Indonesia, mengalami inkonsistensi atau distorsi dari benih demokrasi yang ditanam dan diwariskan oleh pemuda 28 oktober 1928 itu.

Akhirnya, warisan yang diukir para pemuda 1928 tersebut relatif kurang mampu dipertahankan dan diimplementasikan. Selanjutnya peran-peran yang dimainkan oleh pemuda tergeser oleh peran peran yang dimainkan oleh mahasiswa.

Meskipun mahasiswa termasuk dalam lingkaran usia pemuda, tetapi pergerakan mahasiswa tidak lazim disebut sebagai gerakan pemuda. Bahkan kalau kita mencermati perjalanan sejarah pergerakan pemuda dalam konteks moral force di Indonesia sesudah peristiwa 1928, gaungnya sudah tidak sebesar dengan gaung aksi pergerakan angkatan 1966, 1978 dan 1998. Oleh karena itu, pemuda dan mahasiswa harus berusaha secara bersunguh-sungguh dengan kreatifitas dalam pendidikan, bermasyarakat maupun berpolitik dengan yang lebih akurat dan representatif dalam memainkan perannya sebagai agen moral dan mediator. Sebab yang dihadapi bukan musuh seperti penjajah tempo dulu, dimana kebersamaan dan persatuan relatif lebih mudah capaiannya, ketimbang dengan perjuangan untuk mengarah kepada sebuah kehidupan berbangsa yang demokratis, dimana obyeknya bukan musuh, tetapi saudara sebangsa sendiri yang memiliki ragam dan kompleksitas kepentingan yang berbeda.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: