Siapa yang Neolib ?

Posted on Oktober 20, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, |

Pasca deklarasi pasangan capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- Boediono di Bandung, kata “neolib”, atau neoliberal, liberalisme baru, menjadi kata yang populer dikalangan pengamat dan masyarakat. Cawapres Boediono dituduh sebagai tokoh neolib. Sebenarnya apa sih neolib atau neoliberalime itu? Apakah neolib itu merugikan rakyat, atau sebaliknya menguntungkan rakyat.

Neoliberalisme telah menjadi polemik yang sekaligus menjadi platform pembeda di antara calon presiden yang bersaing dalam pemilu mendatang, dengan membandingkan dengan sistem ekonomi kerakyatan. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, walaupun membantah berulang kali, tetap saja dicap kaum neolib. Sebaliknya pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo sama-sama mengklaim penganut sekaligus pembela paham ekonomi kerakyatan. Tanpa penjelasan yang memadai tentang perbedaan di antara dua paham ekonomi itu, para calon presiden ramai-ramai terjun ke pasar. Di sana mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak menganut neolib.

Jusuf Kalla seorang capres yang pertama dan yang paling rajin mengunjungi pasar, mulai mengunjungi Pasar Tanah Abang, Jakarta, kemudian ke Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Ke mana-mana Jusuf Kalla pergi, pasar selalu menjadi tempat yang dikunjungi. Capres SBY juga mengunjungi Pasar Sukowati di Denpasar, Bali. Kunjungan SBY ke pasar diantaranya untuk menepis tuduhan terhadap dirinya sebagai orang neolib. Megawati yang mampu menciptakan drama ‘wong cilik’ dengan memilih Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang sebagai lokus deklarasi juga terjun ke pasar. Dalam rangka pembuatan iklan yang memperlihatkan keberpihakannya kepada ekonomi kerakyatan, Mega masuk Pasar Blok A di Jakarta Selatan. Sama-sama mengunjungi pasar oleh kedua kubu yang sedang mencari poin perbedaan memperjelas bahwa mereka sesungguhnya tidak menghayati betul distingsi antara kerakyatan dan neolib.

Di dunia ini sesungguhnya tidak ada negara yang melaksanakan neoliberalisme maupun ekonomi kerakyatan secara murni. Neoliberalisme sebagai paham yang mendewakan pasar tanpa campur tangan negara terlalu banyak ternyata memerlukan banyak regulasi atau intervensi. Tidak mungkin sebuah perekonomian bebas dari intervensi negara. Sebaliknya, paham ekonomi kerakyatan tidak bisa mengunci pintu rapat-rapat dari pengaruh dan mekanisme pasar. Baik karena pengaruh globalisasi maupun pengaruh kebutuhan pertumbuhan dan kesejahteraan itu sendiri. Semakin sebuah bangsa keluar dari kemiskinan karena perkembangan ekonomi yang membaik, dia mau tidak mau harus membuka diri untuk diekspos atau mengekspos mekanisme pasar.

Pasar bebas merupakan ciri utama leiberalisme dan neoliberalisme. Liberalisme sangat percaya pasar bebas tanpa campur tangan pemerintah, sehingga menguntungkan bagi pengusaha yang sedikit dan merugikan rakyat. Sedangkan neoliberalisme juga mementingkan pasar bebas tetapi ada campur tangan pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Pemerintah membuat regulasi atau aturan ekonomi untuk mensejahterakan rakyat.

Jadi siapa yang neolib diantara para kandidat pilpres 2009, karena mereka sama-sama getol memperhatikan pasar sebagai lahan kampanye. Padahal pasar merupakan ciri utama liberalisme dan neoliberalisme. Rakyat akan bisa menilai sendiri siapa yang mempunyai konsep ekonomi yang baik bagi bangsa Indonesia. Selama berjuang menuju pilpres 2009.

Pribadi Adi Paringgo
Jl. Kalisari, Jakarta Timur
Email: pringgoadi@plasa.com

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: