Gaza dan Goldstone

Posted on November 30, 2009. Filed under: Artikel Opini | Tag:, , , |

Oleh : Andika Hadinata
“Perdamaian tak bisa terwujud dari ketidakadilan” (Carlos Santana, Associated Press,1 September 2004).

Perdamaian adalah sesuatu yang rapuh, khususnya di bumi Palestina. Bila tercipta perdamaian beberapa saat saja, naluri agresi manusia yang doyan mengobral senjata segera mengoyaknya. Itulah yang terjadi di Jalur Gaza. Terbaru, serangan udara Israel melukai delapan warga Palestina di workshop logam di kawasan tengah dan utara Gaza serta di terowongan perbatasan Rafah Minggu pagi lalu (22/11). Padahal, Sabtu (21/11) Hamas baru menyatakan bersedia menghentikan serangan roket ke Israel (Jawa Pos, 24/11).

Gaza yang dikuasai Hamas memang sering jadi bulan-bulanan Israel. Dulu banyak pemimpin Hamas dibunuh Israel. Kita tentu tak pernah lupa, tiga rudal Israel menggugurkan pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas Syekh Ahmad Yasin saat hendak meninggalkan masjid setelah menunaikan salat Subuh (22/3/2004). Belum genap sebulan setelah kematian Yasin, giliran Abdul Aziz Al Rantisi -pengganti Yassin- meninggal karena ditembak rudal tentara Israel (17/4/2004). Israel kembali membunuh tokoh Hamas Adnan al-Ghoul dalam serangan rudal di Jalur Gaza (21/10/2004).

Mereka meninggal atas instruksi langsung Ariel Sharon, PM Israel ketika itu. Dia dikenal dengan “The Butcher of Sabra and Shatila” karena membantai lebih dari 2.000 pengungsi Palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila, Lebanon. Sejak terkena stroke pada Juli 2006 dan kini terbaring koma dalam usia 81 di RS Syaiba, tak jauh dari Kota Tel Aviv, Sharon tentu tidak ingat semua aksi biadabnya semasa masih sehat.

Anehnya, para pengganti Sharon justru tidak mau menghentikan kebiadabannya terhadap warga Palestina, khususnya yang ada di Gaza. Publik dunia tentu tidak melupakan serangan Israel di Jalur Gaza pada 27 Desember 2008-18 Januari 2009 yang menewaskan 1.400 jiwa dan mencederai 5.000 warga Palestina.

Rekomendasi Goldstone

Melihat begitu dahsyatnya dampak serangan ke Gaza tersebut, pemerintah Israel kini terancam diajukan ke Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda, dengan tuduhan sudah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menariknya, tuduhan tersebut justru dilontarkan oleh jaksa bereputasi internasional asal Afrika Selatan, Richard Goldstone, yang berdarah Yahudi. Goldstone bersama timnya telah membuat laporan setebal 575 halaman yang berjudul Misi PBB untuk Pencari Fakta dalam Perang di Jalur Gaza yang dipublikasikan pertengahan September lalu. Goldstone menyimpulkan, sesuai dengan hukum internasional, Israel sudah melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza. Goldstone merekomendasikan Israel diadili di Mahkamah Internasional.

Laporan Goldstone menggegerkan dunia, termasuk Israel. Amerika Serikat (AS) keberatan atas laporan Goldstone. Mereka menyebutnya tidak objektif karena memberatkan Israel, sekutu abadi AS. Semula, laporan Golstone akan dibahas dalam sidang Dewan HAM PBB pada 2 Oktober lalu.

Namun, anehnya, atas permintaan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, sidang ditunda hingga Maret 2010. Langkah Abbas tersebut dikecam Hamas sehingga Hamas dan Fatah makin jauh dari agenda rekonsiliasi di internal Palestina. Abbas memang tunduk kepada tekanan AS yang sudah sejak jauh hari berpesan agar Otoritas Palestina jangan bersikap terlalu keras kepada pemerintah Israel, termasuk dalam menyikapi laporan Goldstone. Sebab, bila dikerasi, Israel akan menarik diri dari proses perdamaiaan.

Boleh jadi, pertimbangan Abbas seperti itu bertumpu pada fakta bahwa hampir semua akses penghidupan dan kehidupan rakyat Palestina dikuasai Israel. Misalnya, lapangan pekerjaan. Bahkan, akses untuk air bersih pun dikuasai Israel sehingga saat warga Palestina harus menghemat air, warga Israel bisa berenang sepuasnya di kolam renang pribadi mereka. Sebagian tanah mereka dirampas untuk dijadikan permukiman baru bagi warga Yahudi meski hal tersebut menjadi ganjalan bagi proses perdamaian.

Keras Kepala

Kini publik dunia memang tengah menunggu sidang HAM PBB yang membahas laporan Goldstone pada Maret 2010. Tapi, para analis masalah Timur Tengah sudah yakin bahwa Israel tidak akan bisa diseret ke Mahkamah Internasional. Pasalnya, masih ada hak veto AS. Terbukti pula, Israel masih berani melancarkan serangan baru ke Gaza.

Kecuali itu, Israel selama ini “doyan” melanggar berbagai resolusi dan regulasi PBB. Antara lain, Israel tidak pernah mematuhi Resolusi No 242/1967 yang mewajibkan negeri Yahudi tersebut mengembalikan wilayah-wilayah Palestina, Syria, dan Lebanon yang diduduki secara tidak sah dalam perang Arab-Israel tahun 1967. Juga, kegemaran Israel membangun tembok pernah dilaporkan ke Mahkamah Internasional. Namun, pemerintah Israel justru menganggap Mahkamah Internasional mencampuri urusan dalam negeri Israel. Pembangunan tembok pun terus berjalan.

Melihat sikap keras kepala Israel, tampaknya, prospek perdamaian di bumi Palestina kian tak cerah, apalagi kita belum berbicara tentang “Yahudisasi Jerusalem” yang terus dilakukan Israel. Lebih-lebih, masyarakat internasional yang diwakili PBB sering kali bersikap tidak adil kepada bangsa Palestina. Ketidakadilan terbesar terjadi ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan negara Israel dengan Resolusi No 181/1947 yang berdiri di atas wilayah Palestina. Ironisnya, kemerdekaan bangsa Palestina sebagai sebuah negara tidak pernah diwujudkan oleh PBB. Karena itu, sangat tepat perkataan Carlos Santana di awal tulisan ini.

*). Andika Hadinata, analis politik internasional, tinggal di Tubingen, Jerman

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “Gaza dan Goldstone”

RSS Feed for Simpul Demokrasi Comments RSS Feed

Ass.Wr.Wb.
Saya ingin sekali berkenalan dengan warga negara Indonesia yang mempunyai akses langsung dengan Hamas. Saya ingin berdialog untuk mengenal Hamas lebih dekat. Saya berharap dapat menyumbangkan fikiran yang bermanfaat bagi perjuangan Hamas. Yang pasti kita tidak boleh hanya mengecam Israel, tapi memberi masukan yang bermanfaat bagi Hamas terutama dibidang persenjataan akan jauh lebih baik. Bagi yang membaca comment saya harap hubungi saya via email sulaimanhamzah16@yahoo.co.id
Wassalamu’alaikum


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: