Menjaga Etika di Tengah Upaya Mendemokrasikan Diri

Posted on Februari 8, 2010. Filed under: Ruang Publik | Tag:, , |

Kita, katanya, adalah bangsa yang menjunjung etika. Tapi, apakah sekarang kita benar-benar menempatkan etika itu di tempat yang tinggi? Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini mungkin bisa menjadi cerminnya. Adakah ia masih utuh terjaga ataukah telah retak di sana-sini karena deru dalam mendemokrasikan diri di negeri ini.
Yang paling gres tentu kasus demo di Jakarta yang bertujuan menyindir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan membawa seekor kerbau sebagai simbolnya. Di tengah sawah, kerbau adalah binatang yang dipakai para petani untuk membajak. Tapi, di panggung politik, apalagi bila si kerbau dikait-kaitkan dengan kesakralan kekuasaan, ia bisa berubah menjadi multitafsir.

Panggung politik memang tak ubahnya sebuah panggung pertunjukan raksasa. Di atas panggung itu, segala sesuatu bisa menguat maknanya secara tiba-tiba. Sebuah kursi, misalnya, adalah bukan apa-apa bila ia hanya benda yang kita pakai untuk duduk. Tapi, jika kemudian kita letakkan sebuah kursi di sebuah panggung kosong, ia bisa kita tafsirkan sebagai kekuasaan, pangkat, kedudukan, takhta, pemimpin, dan seterusnya. Karena itu, ketika seekor kerbau digelandang untuk diajak berdemo di bundaran HI, ia dipertanyakan hingga batas etika penyimbolannya. Sebab, si kerbau telah dibawa ke panggung politik.

Sebelum masuk dalam tafsir politis, cobalah kita berbaik sangka. Seperti diketahui, Presiden SBY lahir di Pacitan pada 9 September 1949.

Orang yang lahir pada 1937, 1949, 1961, 1973, 1985, 1997, bila dilihat dari kacamata zodiak Tionghoa atau shio, masuk dalam shio kerbau. Seseorang yang bershio kerbau konon memiliki karakter: tenang, sabar, sedikit pemalu, mau introspeksi, pintar mengatur keuangan, dan cermat sebelum mengambil keputusan. Tapi, menurut karakter yang melekat pada shio kerbau, dia cenderung lambat karena kehati-hatian yang berlebihan. Jadi, sebagai sebuah simbol yang tidak dipolitisasi, kerbau adalah baik-baik saja.

“Kita tidak pernah bilang kalau kerbau itu seperti SBY, yang gemuk dan lamban. Tapi, dia sendiri yang mengartikan itu adalah dirinya yang berbadan besar dan malas,” ujar Yosep Rizal, sang demonstran yang membawa kerbau pada 100 hari SBY lalu, dalam sebuah wawancara.

Siapa pun bebas mengartikan bermacam-macam. Jika Presiden SBY merasa tersindir, Yosep pun bisa berkelit dengan mengaku tidak bermaksud mempermalukan SBY. Dalam sebuah wawancara di televisi, Budiman Sujatmiko, mantan demonstran yang kenyang dengan intimidasi rezim Orde Baru, menganggap reaksi SBY tersebut berlebihan. Silang persepsi itu tentu bisa sangat panjang dan tak berujung. Sebab, pihak demonstran berdalih dengan bahasa kata, sedangkan SBY berusaha mengingatkan bahwa ini soal rasa.

Sesampai di sini, mungkin yang terbaik yang harus kita lakukan adalah kembali memikirkan pentingnya beretika. Menjaga etika. Sebab, di tengah laju perbaikan kehidupan demokrasi yang begitu kencang, kita sering mengesampingkan perasaan. Sepanjang masih ada kilah kata-kata untuk berlindung, sepertinya kita bebas melakukan apa saja. Padahal, tanpa mengindahkan perasaan, mana mungkin etika bisa dijaga. (*)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: