Sang Jubir Presiden….

Posted on Februari 16, 2010. Filed under: Ruang Publik | Tag: |

Dalam sejarah pemerintahan di Indonesia, adanya juru bicara presiden secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001). Rabu, 11 Oktober 2000, di ruang pers di belakang Gedung Bina Graha, Jalan Veteran, Jakarta, Wimar Witoelar mengatakan kepada sekitar 40 wartawan yang sehari-hari meliput peristiwa kepresidenan: ”Tugas para juru bicara (jubir) adalah meletakkan dialog antara Presiden dan masyarakat dalam komunikasi yang jernih.”

Ketika itu, Wimar baru diangkat sebagai Juru Bicara Presiden bersama Adhie Massardi dan Yahya Staquf. Bersama mereka, saat itu, diangkat pula Kepala Biro Pers Istana Dharmawan Ronodipuro yang punya tugas sama, menjadi jembatan dalam dialog antara Presiden dan wartawan.

Menurut Staquf, yang kini menetap di pesantren di Rembang, Jawa Tengah, ketika menjadi jubir, ia sempat mempelajari kegiatan Jubir Gedung Putih di Amerika Serikat. Jubir Presiden AS saat itu punya staf dan pembantu yang memadai. ”Para pembantu jubir ada yang bertugas bergaul dengan wartawan,” ujarnya.

Maka, ketika menjadi Jubir, Staquf selalu menyempatkan berbincang-bincang dengan Presiden pada waktu senggang. Selain itu, kata Staquf, para jubir juga banyak bergaul dengan wartawan secara informal. Dengan demikian, terjadi jalinan rasa. Ini yang dilakukan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998).

Pada saat senggang, Moerdiono mengajak wartawan makan singkong goreng di ruang kerjanya. Ia banyak memberi latar belakang berbagai masalah pemerintahan dan mendengarkan suara wartawan. Pada masa itu, tidak ada jubir. Ia jadi jembatan dialog Pak Harto dan wartawan. Masa Presiden Soekarno tidak ada jubir. Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004) menghapus lembaga jubir.

Menurut pengamatan Staquf, Jubir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009, Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng, sangat agresif atau sangat high profile. Pada periode kedua, Julian A Pasha terlalu low profile.

Agresivitas Dino sangat terlihat dalam bukunya, Harus Bisa-Seni Memimpin a la SBY. Di halaman 7 dan 8, Dino menuliskan, ”… Amien Rais tidak puas dengan operasi penyelamatan waktu itu (setelah tsunami di Aceh)…. Saya dulu juga pengagum Amien Rais….”

Staquf pernah berani memotong beberapa kalimat dari instruksi Gus Dur yang harus diumumkan lewat wartawan. ”Ini pilihan saya demi jernihnya dialog antara Gus Dur dan wartawan. Beberapa nama saya hilangkan dalam pengumuman saya,” ujar Staquf.

Juru instruksi
Biro Pers Istana saat ini lebih terlihat sebagai juru instruksi kepada wartawan. Akan tetapi, memang, saat ini tak seorang pun di istana merelakan diri menjadi jembatan dialog antara SBY dan wartawan atau masyarakat. Akibatnya, soal unjuk rasa dengan kerbau menjadi bahan olok-olok masyarakat.

Ada yang baru dalam sejarah istana saat ini. Wakil Presiden Boediono punya Jubir Yopie Hidayat. Yopie cukup luwes bergaul dengan wartawan. Perlu dicatat, arti dialog di sini bukan instruksi atau memberikan penjelasan panjang lebar. Dialog juga mendengarkan mitra bicara secara apa adanya.

Jubir tidak perlu bicara panjang lebar tentang keberhasilan, kebaikan, dan kemuliaan istana. ”Kalau kita bicara dengan juru bicara seperti itu, lima menit pertama kita bisa senang. Akan tetapi, bila selama satu jam berikutnya pembicaraannya berisi memuji-muji dirinya, kita akan muak. Penyakit kita di sini adalah terlalu banyak memuji diri,” begitu kata biduan senior Franky Sahilatua di Manado, beberapa pekan lalu.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: