Nyepi dan Komitmen Kebersamaan Kita

Posted on Maret 18, 2010. Filed under: Ruang Publik | Tag: |

Hari ini, saudara kita yang beragama Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Segala kegiatan dihentikan. Bahkan, lampu pun dipadamkan. Semua itu dimaksudkan untuk melakukan perenungan dan penghayatan akan makna kehidupan ini.

Di Indonesia, di luar Pulau Bali, mungkin kekhidmatan Nyepi tidak begitu terasa. Namun, karena Hari Raya Nyepi merupakan salah satu libur nasional, seluruh warga bangsa ini secara tidak langsung telah ikut ”terlibat” dalam merayakan hari raya itu.

Tentu, ini bukan dalam konteks keyakinan. Melainkan, dalam kaitannya sebagai satu kesatuan warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan adanya libur nasional, kita seakan ”dipaksa” oleh negara untuk ikut merasakan apa yang sedang dirasakan saudara sebangsa-setanah air kendati berbeda keyakinan.

Secara kuantitas, jumlah umat Hindu di negeri ini memang tidak sebesar penganut agama lain (khususnya Islam). Namun, itu tidak bisa dijadikan pembenar untuk memandang penganut agama Hindu secara berbeda. Di hadapan negara, saudara-saudara yang beragama Hindu tetaplah sama. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain yang kebetulan memeluk agama di luar Hindu.

Kesadaran atas kebersamaan seperti itu, tampaknya, perlu selalu dibangkitkan ketika momentum hari besar agama datang seperti saat ini. Baik kepada umat beragama yang sedang merayakan maupun yang tidak. Dengan begitu, kita akan selalu ingat bahwa bangsa ini memang dibangun di atas suku, ras, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Dengan hidup di dalamnya, kita pun berkewajiban menghargai serta menghormati perbedaan tersebut.

Kenyataan itu adalah realitas sejarah. Sebagai generasi penerus, kita patut menghargai dan menjunjung tinggi keputusan para pendahulu, pendiri bangsa ini, yang telah sepakat membangun sebuah negara yang mewadahi sekian banyak perbedaan. Kendati mewakili kelompok mayoritas, para tokoh Islam yang terlibat dalam pendirian bangsa ini rela menanggalkan kalimat ”…dengan menjalankan syariat Islam…” yang tercantum dalam naskah Piagam Jakarta.

Kerelaan para tokoh Islam tersebut merupakan kebesaran jiwa yang harus diapresiasi dan dijunjung tinggi, kemudian diteruskan generasi sekarang, baik oleh generasi muslim maupun nonmuslim. Sangat tidak pantas bila kita sekarang mengabaikan kenyataan sejarah itu dengan memaksakan kehendak kita, sembari menafikan kepentingan dan perasaan orang yang kebetulan berbeda keyakinan, suku, atau budaya dengan kita.

Pada era reformasi ini, tiap-tiap kelompok memang memiliki keleluasaan untuk menyampaikan pendapat. Salah satunya tecermin dalam pengusulan/pembuatan regulasi yang mengatur kehidupan bersama. Namun, yang harus tetap diperhatikan, keleluasaan itu bukan dalam arti kebebasan tanpa batas. Ada pihak lain yang juga memiliki kebebasan sama yang harus diberi tempat dan diberi ruang.

Perbedaan atau pluralitas adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Bahkan, perbedaan pun akan tetap ada kendati sebuah masyarakat telah hidup dalam kesamaan agama, budaya, maupun suku. Ini tidak lepas dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk unik yang memiliki kepribadian dan karakter berbeda-beda. Latar belakang individual sangat menentukan terbentuknya perbedaan tersebut.

Karena itu, bila kerukunan serta kedamaian menjadi salah satu tujuan dalam kehidupan ini, penghargaan dan penghormatan atas suatu perbedaan harus terus dipelihara dan dijunjung tinggi. Dengan cara itulah, keutuhan bangsa ini bisa terus dipelihara. (*)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: