Aksi Mahasiswa Musuh Masyarakat

Posted on Maret 25, 2010. Filed under: Pustaka Wacana | Tag:, , |

Demonstrasi anarkistik yang terjadi di Makassar sangat disesalkan. Mahasiswa, yang seharusnya menyuarakan nurani masyarakat, malah menjadi musuh masyarakat. Mereka memblokade jalan dan terlibat perang batu melawan orang-orang kecil, seperti tukang becak dan sopir angkot. Aksi memalukan ini justru mengundang kebencian sekaligus menggagalkan tujuan demo itu sendiri.

Dipelopori oleh aktivis sejumlah organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Indonesia, unjuk rasa itu sebenarnya bertujuan mulia: mendorong pengusutan kasus Bank Century. Tapi para mahasiswa Makassar bertindak nekat. Mereka menutup jalan-jalan yang menghubungkan Kabupaten Gowa dengan Makassar.

Selama beberapa jam, mahasiswa melarang siapa pun melintasinya. Mereka membakar ban-ban bekas untuk menghalangi warga lewat.

Bisa dibayangkan kerugian ekonomi yang terjadi. Masuk akal jika warga–terutama orang kecil–tak bisa lagi menahan emosinya. Sopir, pedagang kaki lima, dan tukang becak–mereka yang seharusnya dibela mahasiswa–justru bersatu padu melawan mahasiswa. Tak hanya dengan masyarakat, mahasiswa juga bermusuhan dengan polisi. Permusuhan ini meledak dan meluas setelah ada anggapan bahwa kantor HMI di Makassar diserang oleh aparat kepolisian.

Mungkin saja para mahasiswa terprovokasi. Tapi seharusnya mahasiswa tidak gampang terpancing karena yang dirugikan adalah mereka sendiri. Akibat demonstrasi yang anarkistik, tujuan mereka menggelindingkan terus kasus Century justru tak tercapai. Soalnya, masyarakat justru muak melihat aksi brutal yang berlangsung selama berhari-hari itu.

Aktivis mahasiswa mestinya juga mencermati betul isu yang diperjuangkan. Sungguh keliru jika kasus Century dianggap sebagai isu yang benar-benar mewakili kepentingan masyarakat luas. Sebab, isu ini bergulir lebih karena didorong oleh kepentingan para politikus Senayan untuk melengserkan Boediono dan Sri Mulyani. Kedua petinggi ini dinyatakan bersalah secara politik, tapi itu belum terbukti secara hukum.

Tidaklah sulit mengharapkan simpati publik jika isu yang digelindingkan mahasiswa menyangkut kepentingan masyarakat luas. Kita jadi ingat masa-masa indah gerakan mahasiswa di Yogyakarta dan Jakarta pada 1998 saat menyerukan penurunan Soeharto. Saat itu mahasiswa dan warga bahu-membahu. Bahkan, di Yogya, ibu-ibu secara sukarela menyediakan makanan-minuman gratis di pinggir jalan.

Mahasiswa Makassar harus berintrospeksi. Mestinya mereka sadar bahwa tindakan anarkistik hanya akan mencoreng gerakan mahasiswa Indonesia. Tugas mahasiswa sebagai kaum intelektual justru mengikis habis budaya kekerasan, bukan melestarikannya. Perlu pula dibuang jauh-jauh kebanggaan konyol bahwa yang membedakan demo di Makassar dengan di kota lainnya adalah keberanian berkelahi.

Sekali lagi, aksi-aksi semacam ini jelas tidak bermutu dan justru menjadi musuh rakyat.

WORO SEMBODHRO
Baciro, Yogyakarta
worosembodhro@yahoo.com

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: