Awas, Gerakan Terorisme Salin Wujud!

Posted on Maret 25, 2010. Filed under: Ruang Publik | Tag:, |

Gerakan terorisme terus saja memperbarui jaringan, perekrutan, hingga sasaran dalam mewujudkan aksiny. Kelompok semacam Jamaah Islamiyah atau mereka yang kini menamakan diri Tanzim al-Qaidah di Aceh bisa merekrut anggotanya dari mana saja. Bahkan, bilik penjara sekalipun bisa menjadi tempat yang nyaman buat menyebarkan paham mereka.
Kisah Gema Awal Ramadhan merupakan satu contoh. Dia ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiterorisme beberapa waktu lalu di Aceh. Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri ini dihukum satu setengah tahun karena ikut menganiaya adik kelasnya, Wahyu Hidayat, hingga tewas. Di Penjara Sukamiskin, Bandung, ia mengikuti ceramah Aman Abdurrahman, terpidana kasus bom Cimanggis, Depok, Jawa Barat tahun 2004. Dalam sekejap, ia pun berubah. Ia menolak bertemu dengan ibunya, seorang pegawai negeri, yang ia anggap sebagai thaghut, setan besar. Setelah bebas, ia bergabung dalam kelompok Tanzim al-Qaidah di Aceh.

Sistem pemenjaraan di negeri kita tercinta ini terbukti tak bisa mematikan paham para terpidana terorisme. Sebagian tersangka yang ditangkap di Aceh adalah mantan terpidana kasus terorisme. Mereka bergabung kembali, membentuk kelompok baru, dan melakukan kegiatan yang sama. Bukan cerita baru bila beberapa terpidana di dalam bui pun leluasa berkomunikasi dengan kelompok mereka di luar penjara.

Dari para tersangka yang ditangkap, diketahui setidaknya ada dua pola besar perekrutan. Pertama, hubungan kekerabatan. Keluarga Ali Ghufron dengan dua adiknya, Amrozi dan Ali Imron, merupakan contoh paling jelas. Mereka terlibat pengeboman Bali, 12 Oktober 2001. Ghufron dan Amrozi dihukum mati dan Ali menjalani hukuman seumur hidup.

Pola perekrutan kedua dilakukan melalui hubungan guru dan murid. Kelompok taklim di Lampung yang kini bergabung dengan kelompok di Aceh bisa disebut sebagai contoh. Sejumlah tersangka dalam kasus lain direkrut guru mereka di Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebagian anggota kelompok bisa juga direkrut karena hubungan pertemanan.

Dengan pola seperti itu, paham ini sulit dimatikan. Video seruan jihad pun bisa gampang didapat di lapak kaki lima hingga internet. Guru-guru penyeru radikalisme juga bebas berceramah di mana saja. Janji kepastian masuk surga ternyata laku dijual sebagai daya tarik.

Untuk menangkal paham radikal tersebut agar tak tumbuh membesar, ada beberapa yang bisa dilakukan. Pertama, aksi-aksi penawar radikalisme perlu digiatkan. Tak cukup dengan mencetak banyak-banyak buku atau video tandingan yang dilakukan pemerintah, masyarakat perlu dilibatkan. Kampanye tentang bahaya radikalisme, seperti halnya gerakan antinarkotik bisa dilakukan. Keluarga sebagai komunitas masyarakat terkecil mesti berperan mempertebal toleransi dan bersedia menerima perbedaan, agar ideologi tidak ditafsirkan secara sempit-dan akhirnya berakibat destruktif.

Kedua, yakni merumuskan rehabilitasi yang tepat bagi para terpidana kasus terorisme. Hal ini dilakukan oleh pemerintah. Polisi selama ini melakukan program deradikalisasi, antara lain dengan menyokong ekonomi mereka. Tapi itu tak cukup, terutama karena sebagian besar terpidana menolak bantuan polisi, yang mereka sebut thaghut.

Badan Penanggulangan Terorisme yang akan dibentuk pemerintah semestinya berperan besar dalam proses pelunturan radikalisme ini. Badan bisa melibatkan, misalnya, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Sosial, juga psikolog untuk melakukannya. Melibatkan teman sepaham untuk membantu deradikalisasi, seperti dilakukan polisi yang menggunakan sesama alumni Afganistan, tak haram dilakukan sepanjang bisa dikontrol.

MARUR SU’DI
Serdang, Kemayoran
JAKARTA PUSAT
masrur_syudi@yahoo.com

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: