Budaya Latah Masyarakat Dalam Kasus Susno

Posted on April 30, 2010. Filed under: Artikel Opini |

Demokrasi – Berawal dari dari kasus pasca pertikaiannya dengan KPK, kedatangan Susno yang menggunakan seragam dinas saat menjadi saksi persidangan Antasari, dan penonaktifan Susno sebagai orang nomor dua dalam jajaran Polri. Awalnya, nama Susno mendapat cemoohan bahkan kritikan dari banyak pihak akibat pernyataanya dan tindakannya yang kontroversial mulai dia menjabat aktif sebagai Kabareskrim dan pasca penonaktifannya yang berani mengungkap adanya ”Markus” dalam tubuh Polri. Nama Susno digadang sebagai pahlawan baru oleh masyarakat dengan cara membela Susno ketika mendapat serangan balik dari para petinggi dan atasan Polri.

Selayaknyalah perlu segera diusut tuntas dan mendukung rekomendasi dari SBY yang segera membentuk tim dengan melibatkan Komisi Kepolisian Nasional beserta Satuan Tugas Pemberatasan Mafia Hukum.

Budaya masyarakat Indonesia terutama dalam penyingkapan kasus-kasus besar mulai dari Bibit-Hamzah, Prita dan masih banyak yang lain dinilai terlalu berlebihan dan latah dalam melihat permasalahan. Kita mudah sekali mengikuti main stream yang terjadi dan tersulut dengan hitam-putihnya suatu permasalahan. Suatu persoalan kalau kurang dilihat secara jeli untuk mencari sumber dan akan permasalahan, akan gampang terbawa arus dengan adanya suara mayoritas dengan mengenyampingkan sumber, motivasi atau yang lainnya. Hal tersebut juga terjadi pada Century Gate yang menyeret dua nama besar yaitu Sri Mulyani dan Boediono yang dituduh bersalah dan paling bertanggung jawab, padahal mereka bukan melakukan suatu tindakan kejahatan (white collar crime).

Hendaknya kita melihat suatu kasus secara lebih holistik dan integratif, jangan secara parsial. Yang diharapkan pendapat agar lebih arif, bijak dan obyektif ketika hendak menanggapi dan merespon suatu permasalahan. Kita kembalikan pada institusi yang berhak mengusut melalui mekanisme hukum yang berlaku dengan tetap melakukan pengawasan secara eksternal, serta perlu orang seperti Susno dirangkul dengan mendengarkan keluh kesahnya agar tidak terus berkicau.

Semoga kita bisa lebih obyektif dalam melihat kasus-kasus yang ada. Baik yang sekarang maupun yang akan datang

Diah Setyaningsih
Mahasiswa Fisipol Universitas Pancasila
Jakarta

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: